YAZID AHMAD S.Pd
Selasa, 07 Februari 2012
Pos Baca Girli: KERISPI DARI IBU
Pos Baca Girli: KERISPI DARI IBU: KERISPI DARI IBU Peristiwa itu aku alami waktu kecil, aku pernah sakit keras. Saat itu umurku sekitar tiga tahun. Ibuku sangat bingung ...
Rabu, 26 Oktober 2011
SHARED READING
“ An effective learning environment for the
acquisition of literacy should be alive with
activity which is felt to be deeply purposeful
in all the ways of human meaning.”
Don Holdaway, Foundations of Literacy (1979)
Shared reading dikembangkan oleh Don Holdaway di New Zealand pada tahun 80an. Shared reading didasrakan pada bed time story tetapi diaplikasikan didalam kelas yang besar. Dengan menggunakan media gambar atau big book, anak-anak akan lebih mudah menangkap isi cerita tersebut.
Teaching a story pada young learners tidaklah harus menerjemahkan perkalimat untuk membuat anak-anak memahami isi cerita. Tidak perlu pula memberi banyak pertanyaan yang rumit. Selama ini masih banyak para guru yang mengajar dengan metode lama yaitu menerjemahkan teks dengan kamus, menjodohkan bahasa Inggris dengan Bahasa Indonesia dll.
DEFINITION
The reading of a text (such as a Big Book) by multiple persons at once; the reading of text by one person to a group of people following along, such as a teacher reading a story to a class. (www.education.com)
Melalui cerita guru bisa mengajarkan pengalaman baru, dengan mengenalkan frase-frase dalam dialog dari tokoh-tokoh cerita tersebut. Materi yang diajarkan haruslah sangat selektif. Di dalam teks diharuskan ada dialog-dialog sederhana yang membuat anak-anak lebih mudah memahami isi cerita serta dapat melatuh mereka berbicara dalam mengungkapkan dialog-dialog tersebut.
PROCEDURE
1. INTRODUCE THE MAIN CHARACTER OF THE STORY
Petama guru mengenalkan tokoh-tokoh dari cerita. Introduction biasanya memakan waktu sekitar 5-10 menit. Guru harus membawa gambar dari tokoh-tokoh tersebut. Menyebutkan karakter para tokoh secara berulang – ulang sehingga anak dapat menangkap ungkapan-ungkapan yang diucapkan guru. Ingat anak-anak belum boleh melihat teks. Jadi hanya mendengarkan dan melihat gerkan (action) dari guru yang menerangkan. Sesekali anak-anak menirukan ucapan guru dari karakter tokoh tersebut secara sederhana.
Contoh :
DRAGON STORY
The dragon is friendly. It has fire on it’s mouth. It can fly.
The ogre is ugly. His body is green. He lives in the dark tower. His sound is oarrr . . . oarrr
The princess is beautiful. She lives in the castle.
The king and queen live in the castle too. They have much gold
The knights have swords. They ride horses.
2. INTRODUCING THE KEY WORDS
Key words sangatlah penting diperkenalkan di awal sebelum membaca teks bersama-sama. Cara pengenalan key words ini harus disertai cerita singkat dari teks tersebut. Pengenaln key words bisa dilakukan bersamaan dengan pengenalan karakter dari tokoh cerita tersebut.
Contoh : pada cerita the princes and the dragon
Key words : gold, knights, dark tower, castle,
3. READ THE STORY
Guru membacakan cerita dengan membawa gambar atau boneka untuk ilustrasi. Guru harus bisa act out pada setiap kalimat atau frasa yang diucapkannya. Guru bisa melibatkan anak-anak untuk act out. Guru membaa tiap kalimat atau frasa secara berulang-ulang, siswa bisa menirukan beberapa key word pada setiap paragraf. Key word sangat penting untuk mengenalkan kosa kata baru pada anak – anak. Jadi intinya anak tidak harus membaca semua kalimat di setiap paragrah. Dalam fase ini anak-anak masih dalam fase listening.
Pada fase ini guru bisa bertanya kepada siswa dengan pertanyaan yang sangat sederhana. Biasanya siswa belum bisa menjawab pertanyaan dari guru. Jadi guru harus menjawab sendiri pertanyaannya kemudian mengulanginya lagi sampai siswa menjawab sesuai yang diucapkan guru tersebut. Contohnya, ”how is the dragon?” jika belum ada respon, guru langsung menjawabnya sendiri ”it’s friendly” kemudian siswa siswa menjawabnya bersama-sama “it’s friendly” guru mengulangi pertanyaannya lagi dan lagi sampai siswa lancar menjawabnya.
Setelah itu, guru menanyakan karakter tokoh yang lain dengan pola pertanyaan yang sama. ” how is the princess?” biasanya beberapa siswa sudah faham dan bisa menjawab secara lisan, ”she is beautiful”. Jika sudah dijawab guru mengulang pertanyaannya, kemudian siswa menjawab bersama-sama.
4. MATCHING THE PICTURES
Untuk tes tulis, kita tidak perlu menggunakan banyak kata tanya seperti what, where dll, tetapi kita cukup menyediakan gambar dan penggalan-penggalan kalimat atau dialog dari para tokoh di cerita tersebut. Kemudian siswa mencocokkan antara gambar dan penggalan-penggalan tadi. Fase ini bisa dikerjakan anak-anak secara berkelompok atau individu. Urutan gambar harus disesuaikan dengan alur cerita. Jadi anak-anak secara otomatis telah faham dengan mengurutkan penggalan-penggalan ceriita tersebut menjadi satu paragraf sederhana.
acquisition of literacy should be alive with
activity which is felt to be deeply purposeful
in all the ways of human meaning.”
Don Holdaway, Foundations of Literacy (1979)
Shared reading dikembangkan oleh Don Holdaway di New Zealand pada tahun 80an. Shared reading didasrakan pada bed time story tetapi diaplikasikan didalam kelas yang besar. Dengan menggunakan media gambar atau big book, anak-anak akan lebih mudah menangkap isi cerita tersebut.
Teaching a story pada young learners tidaklah harus menerjemahkan perkalimat untuk membuat anak-anak memahami isi cerita. Tidak perlu pula memberi banyak pertanyaan yang rumit. Selama ini masih banyak para guru yang mengajar dengan metode lama yaitu menerjemahkan teks dengan kamus, menjodohkan bahasa Inggris dengan Bahasa Indonesia dll.
DEFINITION
The reading of a text (such as a Big Book) by multiple persons at once; the reading of text by one person to a group of people following along, such as a teacher reading a story to a class. (www.education.com)
Melalui cerita guru bisa mengajarkan pengalaman baru, dengan mengenalkan frase-frase dalam dialog dari tokoh-tokoh cerita tersebut. Materi yang diajarkan haruslah sangat selektif. Di dalam teks diharuskan ada dialog-dialog sederhana yang membuat anak-anak lebih mudah memahami isi cerita serta dapat melatuh mereka berbicara dalam mengungkapkan dialog-dialog tersebut.
PROCEDURE
1. INTRODUCE THE MAIN CHARACTER OF THE STORY
Petama guru mengenalkan tokoh-tokoh dari cerita. Introduction biasanya memakan waktu sekitar 5-10 menit. Guru harus membawa gambar dari tokoh-tokoh tersebut. Menyebutkan karakter para tokoh secara berulang – ulang sehingga anak dapat menangkap ungkapan-ungkapan yang diucapkan guru. Ingat anak-anak belum boleh melihat teks. Jadi hanya mendengarkan dan melihat gerkan (action) dari guru yang menerangkan. Sesekali anak-anak menirukan ucapan guru dari karakter tokoh tersebut secara sederhana.
Contoh :
DRAGON STORY
The dragon is friendly. It has fire on it’s mouth. It can fly.
The ogre is ugly. His body is green. He lives in the dark tower. His sound is oarrr . . . oarrr
The princess is beautiful. She lives in the castle.
The king and queen live in the castle too. They have much gold
The knights have swords. They ride horses.
2. INTRODUCING THE KEY WORDS
Key words sangatlah penting diperkenalkan di awal sebelum membaca teks bersama-sama. Cara pengenalan key words ini harus disertai cerita singkat dari teks tersebut. Pengenaln key words bisa dilakukan bersamaan dengan pengenalan karakter dari tokoh cerita tersebut.
Contoh : pada cerita the princes and the dragon
Key words : gold, knights, dark tower, castle,
3. READ THE STORY
Guru membacakan cerita dengan membawa gambar atau boneka untuk ilustrasi. Guru harus bisa act out pada setiap kalimat atau frasa yang diucapkannya. Guru bisa melibatkan anak-anak untuk act out. Guru membaa tiap kalimat atau frasa secara berulang-ulang, siswa bisa menirukan beberapa key word pada setiap paragraf. Key word sangat penting untuk mengenalkan kosa kata baru pada anak – anak. Jadi intinya anak tidak harus membaca semua kalimat di setiap paragrah. Dalam fase ini anak-anak masih dalam fase listening.
Pada fase ini guru bisa bertanya kepada siswa dengan pertanyaan yang sangat sederhana. Biasanya siswa belum bisa menjawab pertanyaan dari guru. Jadi guru harus menjawab sendiri pertanyaannya kemudian mengulanginya lagi sampai siswa menjawab sesuai yang diucapkan guru tersebut. Contohnya, ”how is the dragon?” jika belum ada respon, guru langsung menjawabnya sendiri ”it’s friendly” kemudian siswa siswa menjawabnya bersama-sama “it’s friendly” guru mengulangi pertanyaannya lagi dan lagi sampai siswa lancar menjawabnya.
Setelah itu, guru menanyakan karakter tokoh yang lain dengan pola pertanyaan yang sama. ” how is the princess?” biasanya beberapa siswa sudah faham dan bisa menjawab secara lisan, ”she is beautiful”. Jika sudah dijawab guru mengulang pertanyaannya, kemudian siswa menjawab bersama-sama.
4. MATCHING THE PICTURES
Untuk tes tulis, kita tidak perlu menggunakan banyak kata tanya seperti what, where dll, tetapi kita cukup menyediakan gambar dan penggalan-penggalan kalimat atau dialog dari para tokoh di cerita tersebut. Kemudian siswa mencocokkan antara gambar dan penggalan-penggalan tadi. Fase ini bisa dikerjakan anak-anak secara berkelompok atau individu. Urutan gambar harus disesuaikan dengan alur cerita. Jadi anak-anak secara otomatis telah faham dengan mengurutkan penggalan-penggalan ceriita tersebut menjadi satu paragraf sederhana.
Langganan:
Postingan (Atom)