Rabu, 26 Oktober 2011

SHARED READING

“ An effective learning environment for the
acquisition of literacy should be alive with
activity which is felt to be deeply purposeful
in all the ways of human meaning.”
Don Holdaway, Foundations of Literacy (1979)


Shared reading dikembangkan oleh Don Holdaway di New Zealand pada tahun 80an. Shared reading didasrakan pada bed time story tetapi diaplikasikan didalam kelas yang besar. Dengan menggunakan media gambar atau big book, anak-anak akan lebih mudah menangkap isi cerita tersebut.
Teaching a story pada young learners tidaklah harus menerjemahkan perkalimat untuk membuat anak-anak memahami isi cerita. Tidak perlu pula memberi banyak pertanyaan yang rumit. Selama ini masih banyak para guru yang mengajar dengan metode lama yaitu menerjemahkan teks dengan kamus, menjodohkan bahasa Inggris dengan Bahasa Indonesia dll.

DEFINITION
The reading of a text (such as a Big Book) by multiple persons at once; the reading of text by one person to a group of people following along, such as a teacher reading a story to a class. (www.education.com)
Melalui cerita guru bisa mengajarkan pengalaman baru, dengan mengenalkan frase-frase dalam dialog dari tokoh-tokoh cerita tersebut. Materi yang diajarkan haruslah sangat selektif. Di dalam teks diharuskan ada dialog-dialog sederhana yang membuat anak-anak lebih mudah memahami isi cerita serta dapat melatuh mereka berbicara dalam mengungkapkan dialog-dialog tersebut.

PROCEDURE

1. INTRODUCE THE MAIN CHARACTER OF THE STORY

Petama guru mengenalkan tokoh-tokoh dari cerita. Introduction biasanya memakan waktu sekitar 5-10 menit. Guru harus membawa gambar dari tokoh-tokoh tersebut. Menyebutkan karakter para tokoh secara berulang – ulang sehingga anak dapat menangkap ungkapan-ungkapan yang diucapkan guru. Ingat anak-anak belum boleh melihat teks. Jadi hanya mendengarkan dan melihat gerkan (action) dari guru yang menerangkan. Sesekali anak-anak menirukan ucapan guru dari karakter tokoh tersebut secara sederhana.
Contoh :

DRAGON STORY

The dragon is friendly. It has fire on it’s mouth. It can fly.
The ogre is ugly. His body is green. He lives in the dark tower. His sound is oarrr . . . oarrr
The princess is beautiful. She lives in the castle.
The king and queen live in the castle too. They have much gold
The knights have swords. They ride horses.

2. INTRODUCING THE KEY WORDS

Key words sangatlah penting diperkenalkan di awal sebelum membaca teks bersama-sama. Cara pengenalan key words ini harus disertai cerita singkat dari teks tersebut. Pengenaln key words bisa dilakukan bersamaan dengan pengenalan karakter dari tokoh cerita tersebut.
Contoh : pada cerita the princes and the dragon
Key words : gold, knights, dark tower, castle,

3. READ THE STORY

Guru membacakan cerita dengan membawa gambar atau boneka untuk ilustrasi. Guru harus bisa act out pada setiap kalimat atau frasa yang diucapkannya. Guru bisa melibatkan anak-anak untuk act out. Guru membaa tiap kalimat atau frasa secara berulang-ulang, siswa bisa menirukan beberapa key word pada setiap paragraf. Key word sangat penting untuk mengenalkan kosa kata baru pada anak – anak. Jadi intinya anak tidak harus membaca semua kalimat di setiap paragrah. Dalam fase ini anak-anak masih dalam fase listening.
Pada fase ini guru bisa bertanya kepada siswa dengan pertanyaan yang sangat sederhana. Biasanya siswa belum bisa menjawab pertanyaan dari guru. Jadi guru harus menjawab sendiri pertanyaannya kemudian mengulanginya lagi sampai siswa menjawab sesuai yang diucapkan guru tersebut. Contohnya, ”how is the dragon?” jika belum ada respon, guru langsung menjawabnya sendiri ”it’s friendly” kemudian siswa siswa menjawabnya bersama-sama “it’s friendly” guru mengulangi pertanyaannya lagi dan lagi sampai siswa lancar menjawabnya.
Setelah itu, guru menanyakan karakter tokoh yang lain dengan pola pertanyaan yang sama. ” how is the princess?” biasanya beberapa siswa sudah faham dan bisa menjawab secara lisan, ”she is beautiful”. Jika sudah dijawab guru mengulang pertanyaannya, kemudian siswa menjawab bersama-sama.

4. MATCHING THE PICTURES

Untuk tes tulis, kita tidak perlu menggunakan banyak kata tanya seperti what, where dll, tetapi kita cukup menyediakan gambar dan penggalan-penggalan kalimat atau dialog dari para tokoh di cerita tersebut. Kemudian siswa mencocokkan antara gambar dan penggalan-penggalan tadi. Fase ini bisa dikerjakan anak-anak secara berkelompok atau individu. Urutan gambar harus disesuaikan dengan alur cerita. Jadi anak-anak secara otomatis telah faham dengan mengurutkan penggalan-penggalan ceriita tersebut menjadi satu paragraf sederhana.

Rabu, 13 Juli 2011

PERMISI, SILAHKAN, TERIMA KASIH DAN MAAF

Jam menunujukkan10.40 pagi pada hari sabtu tanggal 11 Juni 2011. Pada waktu itu pembelajaran memang tidak penuh karena anak-anak sudah selesai ulangan kenaikan kelas (UKK). Pembelajaran biasanya disi dengan membuat kreatifitas, remidi menggambar dll. Suasanya tidak seperti pembelajarna hari hari biasa. Sedang para guru juga sibuk menulis hasil belajar siswa atau rapor, dan administrasi kelas lainnya.

Kelas siang masuk jam 10.00. seperti biasa, anak anak berbaris sebelum masuk kelas. Mereka mengawali pembelajaran dengan berdo’a terlebih dahulu. Ada yang tidak biasa pada hari ini, saya merasa kelas saya kok longgar sekali, padahal jumlahnya ada 41 anak. Setelah saya absent ada sekitar 10 anak yang belum hadir pada waktu itu. Kegiatan dikelas dimulai dari pembahasan UKK dan remidi bagi anak anak yang tidak mencapai nilai minimal (KKM).

Tiba tiba seorang ank nyelonong masuk, terus menjabat tangan saya. Dia terdiam, lalu setelah saya lepas tangannya dia langsung duduk tanpa berbicara apa-apa. Kemudan saya panggil anak itu. Saya bertanya “Le, kira-kira kalau terlambat bilang apa?” anak itu dengan menunuduk malu bilang “ I am sorry teacher, I am coming late” langsung saja dia ingin kembali ke tempat duduknya sebelum saya menjawab ungkapannya. Kemudian saya panggil lagi. “sebentar, kalau belum disuruh duduk jangan duduk dulu, saya belum menjawab permintaan maaf kamu” kemudian saya menyuruh anak itu untuk duduk “ok, please sit down” anak itu langsung duduk tanpa mengucapkan satu patah katapun. Saya pun memanggilnya kembali, “nak, kalau dipersilahkan duduk kamu seharusnya bilang apa?” “thank you, teacher” jawabnya.

Membudayakan bilang permisi, silahkan, terima kasih dan maaf ternyata bukan hal yang mudah. Sebenarnya ini bukan salah si anak tadi. Terkadang orang tua dan guru sering sekali lupa untuk mengucapkan ungkapan-ungkapan tersebut. Misalnya “Dery, bersihkan papan tulisnya” padahal kita seharusnya bilang “Dery, tolong bersihkan papan tulisnya” orang tua terkadang juga sering menyuruh “Dery belikan sabun di took depan” tanpa memperdulikan kata tolong. jangan lupa untuk bilang terima kasih kepada si Dery itu setelah selaesai mengerjakan apa yang kita perintahkan. Budaya seperti ini harus kita gali lagi untuk menciptakan kominikasi antara guru dan murid atau orang tua dan anak secara santun di sekolah dan di rumah. Kalau hal ini dibiasakan, secara otomatis akan masuk dibawah alam sadar si anak tersebut dalam berkomunikasi dengan teman, orang tua, guru, saudara dan orang lain”. Saya sendiri waktu kecil hamper tidak pernah mendengar ayah atau ibu saya bilang terima kasih kepada saya. Bukan berarti mereka tidak menyayangi saya. Tetapi mereka hanya tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan anak-anaknya”. Baru ketika saya sudah besar dan bekerja saya mendengar “terma kasih ya nak” dari mereka.

Dalam kasus lain, saya sering melihat anak-anak kalau meminjam pensil mereka hanya bilang “hei, pensil, pensil” atau “nyeleh pensile”. Dan si pemilik pensil itu hanya diam sambil memberikan pensilnya. Lebih parah lagi, ketika mengembailkan, si anak tadi hanya melemparkan ke bangkunya tanpa bilang “terima kasih”, Astaghfirullah. Betapa indahnya jika kebiasaan itu berubah menjadi :
“permisi, Dery, saya pinjam pensilnya ya?”
“oh ya silahkan”
“terima kasih Dery”
“Sama-sama”

MEMBIASAKAN DI KELAS

Peran guru disini sangat menentukan mengingat banyak orang tua yang belum tahu cara mendidik anak dengan baik, dalam arti bagaimana cara membiasakan berbahasa yang santun. Saya menyadari bahwa jarang sekali orang tua yang mau mengucapkan terima kasih setelah menyuruh anaknya melakukan sesuatu, bilang permisi ketika lewat didepan anaknya atau masuk kamar anaknya, bilang silahkan ketika anak minta tolong, dan bilang maaf jika bersalah. Bapak / ibu guru bisa menerapkan dikelas dengan memberi model dan memnatau kominikasi siswa dengan siswa, atau siswa dengan guru. Guru hanya butuh membetulkan jika anak berbicara kurang sopan. Jika anak mengatakan “bu pipis” kita langsung memberitahu mereka untuk mengatakan “bu permisi, saya mau pipis” ketika kembali dari kamar mandi, suruh si anak tersebut untuk bilang, “terima kasih, bu”. Membiasakan hal tersebut mungkin memerlkan waktu berbulan-bulan, tergantung Commitment and Consequent (CC) dari guru tersebut. Jika anak sudah bisa membiasakannya dengan sendirinya kebiasaan itu akan tertanam didalam benaknya sampai dia dewasa. Saya masih ingat ketika masih kecil pakdhe saya mengatakan “jangan duduk di atas jika orang tua duduk di bawah”. Nah, ini bukti bahwa kita sebagai guru harus lah hati-hati dalam menangani anak-anak. Bahasa kita akan ditiru dan diingat oleh anak-anak sampai mereka dewasa. Jika kita menanamkan kebaikan kepada mereka, mereka akan terus menghormati kita meski kita sudah tidak kenal merka lagi. Mereka tidak akan melupakan guru mereka di bangku SD. Jika kebaikan yang kita tanamkan tersebut ditanamkan ke orang lain oleh mereka, maka pahala kita akan terus mengalir, subhanaAllah!

Rabu, 15 Juni 2011

MENGHAFALKAN UNGKAPAN SEDERHANA DENGAN CARA MENGHILANGKAN SEBAGIAN KATA


Excuse me, may I go to toilet, please! Setelah kita memcah ungkapan tersebut menjadi 5 suku kata, kita menyuruh anak membacanya dengan menghilangkan excuse me, kemudian mereka membaca lagi dengan May I dihilangkan, kita bisa mengecek memori merka dengan menyuruh beberapa anak membaca ungkapan tersebut yang dua suku katanya sudah dihilangkan.

Selanjutnya masih dengan cara yang sama, kita menghilangkan go to, lalu toilet, lalu please. Setelah semua kata-kata kita hilangkan (hapus di papan) kita menyuruh anak-anak melafalkan ungkapan tersebut. Kita Tanya mereka satu persatu, kita suruh mereka berdialog dengan teman sebelahnya terakhir kita suruh mereka berdialog dengan kita (guru).

Setelah anak anak hafal ungkapan tersebut, kita bisa memperbaiki pronounciation mereka. Ini adalah cara sederhan dalam menghafalkan ungkapan. Tetapi yang harus kita ingat adalah ungkapan tersebut harus sesuai dengan jenjang anak, usahakan ungkapannya sesederhana mungkin yang gampang diucapkan atau di praktekkan dalam komunikasi sehari-hari. Berikut ini adalah daftar ungkapan-ungkapan tersebut:

1. Excuse me, may I go to toilet please!
2. I am sorry, I am coming late.
3. I am sorry, I forget my homework
4. Diah : May I borrow your book please?
Dini : yes, please
Diah : thank you
Dini : you’re welcome

Jika anak anak sudah biasa mempraktekkan ungkapan-ungkapan tersebut dalam dialog sehari hari mereka, maka kita sudah berusaha menjadikan kelas kita sebagai kelas bilingual sederhana. Alhamdulillah!

Minggu, 05 Juni 2011

SEMANGAT PAGI

Seorang ulama, Athif Abdul ‘Id pernah berkata: “Tersenyumlah, karena senyuman anda akan meutup pintu kesedihan dan keputusasaan, sekaligus menerangi lampu-lampu kelonggaran dalam kehidupan kita”
Pada suatu ketika saya mengikuti workshop tentang pendidikan berkarakter di hotel grand kalimas Surabaya. Pembicaranya adalah ustadz Najib Sulhan. Saya merasa pernah mendengar namanya tetapi saya agak lupa lupa ingat. Pada saat beliau memperkenalkan diri, saya baru ingat bahwa beliau adalah penulis tetap majalah MAYARA. subhanaAllah Allah telah mempertemukan aku dengan orang yang sangat luar biasa. Dalam hati saya hanya bersyukur Alhamdulillah.

Pada kesempatan itu, saya mendapatkan sebuah kejutan yaitu, kejutan salam. Saya sangat terkejut ketika beliau menyalami kami dua kali dengan semangat yang berbeda. Salam yang pertama bernada pelan dan “lemes” kami semua pun menjawab dengan kurang semangat. Salam kedua, dengan nada berapi –api, kamipun seolah bangun dari kemalasan kami pagi itu. Luar biasa, salam yang bersemangat menghasilkan respon yang bersemangat pula!

Saya akhirnya menyadari bahwa setiap hari ketika bertemu murid, saya kaang kadang masuk dengan wajah lesu bahkan mengucapkan greeting dengan kurang bersemangat. Saya merasa bersalah karena kurang memperhatikan hal tersebut. Memang kelihatannya sepele, teapi dampaknya ke anak didik saya sangat besar. Saya telah mengendurkan semangat mereka yang datang dari rumah dengan rapi membawa tas yang hanya bertujuan untuk belajar menjadi anak yang pandai.

Setelah workshop, saya mencoba mempraktekkannya di kelas saya. Saya salam dua kali. Yang pertama dengan nada “lemes” dan yang kedua dengan nada bersemangat. Ternyata respon anak anak sama dengan respon para guru kerika mengikuti workshop. Kami para guru terkadang sering memarahi anak didik kami ketika melihat mereka ngantuk atau duduk dengan menyandarkan tubuh mereka di atas bangku. Kita terkadang tidak menyadari bahwa kita juga sering menciptakan suasana yang tidak bersemangat. Ya Allah ampunilah keteledoran kami.

Ketika kita para guru bersemangat dalam mengajar, saya yakin para murid pun akan bersemangat pula. Mereka akan menbak nebak, “kira kira apa ya yang akan diajarkan bapak / ibu guru hari ini? Saya sudah tidak sabar!” mereka akan terus termotivasi jika melihat keramahan kita, Senyum kita dan semangat kita. Siapa lagi panutan mereka diseklah kalau bukan kita para guru. Hal ini tentu akan berbeda jika kita serng memasang muka “kecut” di dalam kelas. Mereka akan berfikir “lama sekali, kok nggak istirahat ya!, kapan ya aku akan pulang?”. Jadi marilah kita selalu mengawali pembelajaran dengan penuh semangat.

CERITA

Cerita merupakan hal yang menarik bagi anak anak. Mereka akan bias berimajinasi sesuai dengan cerita tersebut. Mereka mengira-ngira tempat, tokoh watak tokoh dan bahkan meeka bisa mengambil hikmah dari cerita tersebut. Mereka akan belajar budi pekerti dari situ jika cerita tersebut memang layak umtuk di konsumsi anak-anak.misalnya cerita tentang Ibnu Hajar, para pahlawan, cerita pribadi gurunya dll. Akan banyak keteladanan yang bisa dicontohkan dari cerita-cerita tersebut. Hal ini tentu akan berbeda jika anak-anak mendengar cerita horror dari sebuah film di TV atau cerita mistis dari majalah atau koran. Mereka akan merasa takut dengan sesuatu yang tidak jelas. Banyak anak-anak kita ketakutan kalau masuk toilet. Mereka selalu berdua jika ingin pipis dan berak. Bahkan saya menjumpai bayak anak didik saya yang membeli cerita horror pendek seperti kuntilanak, gondoruwo kuburan dan lain lain dalam buku kecil seharga Rp. 500. saya langsung melarang mereka membeli buku kecil tersebut. Hal ini akan masuk di alam bawah sadar mereka tentang hantu atau apalah yang kelihatan serem sehingga membuat mereka menjadi seorang penakut.

HUMOR CERDAS

“Nak kamu itu kok aktif sekali seperti Gus Dur, jangan naik naik bangku ya! Itu tudak sopan dan berbahaya” ungkapan tersebut akan membuat anak tidak membenci kita. Beda kalau kita bilang “ kamu ini nakal sekali seperti kuda liar” terang aja si anak akan semakin liar. Mereka akan membenarkan keliaran mereka karena kita sudah mengatakan seperti kuda. Kalau tidak liar bukan kuda namanya!!.
“Apa nama bulan yang mempunyai 28 hari?” semua anak menjawab Pebruari. Saya pun langsung menyangkalnya, “salah” mereka semua tidak terima “iya, teacher Pebruari kan jumalah harinya 28” akhirnya saya bertanya balik “lho, memangnya Januari sampai Desember tidak punya 28 hari?” akhirnya dengan sedikit “kethus” mereka bisa menerima.

Humor seperti ini dibutuhkan agar suasana kelas tidak terlalu tegang. Karena saya mengajar di tingkat SD, maka saya jadikan kegiatan pembelajaran dengan rilex. Saya sedikit sekali mencatatkan di papan tulis, biasaya hanya sepuluh soal. Saya masih sering menjumpai guru kelas menyuruh anak-anak menyalin soal pilihan ganda dari buku paket atau LKS ke buku tulis mereka. Menurut saya kegiatan ini terlalu membuang-buang waktu karena anak bukan hanya fokus kepada isi materi tersebut, tetapi anak akan lebih terfokus pada menyelesaikan tulisan tangan.
Dimanakah Ibu Kartini bekerja setelah menikah? Semua anak berfikir ada yang menjawab “di kecamatan, di kantor, di kelurahan di PERTAMINA dll” Sebernarnya kita semua tahu bahwa Ibu Kartini tidak bekerja di kantor, karena pada waktu itu yang ada mungkin hanya kantor pemerintah. Ini hanya memancing reaksi anak karena kita mengingatkan mereka tentang Ibu Kartini dan yang berhubungan dengan Ibu kartini. Akhirnya saya menjawab pertanyaan saya sendiri. “Ibu Kartini bekerja di PLN” Semua anak protes, “pak waktu itu kan belum ada PLN” Eit, tunggu dulu! “ibu Kartini menulis buku namanya Hbis Gelap Terbitlah Terang, jadi dia bekerja di PLN” Suasana kelas pun tidak menjenuhkan lagi.

PESAN MORAL DAN PESAN TERTULIS

Pesan yang terucap sering kali disampaikan oleh orang tua dan guru kepada anak. Pesan yang terucap bisa dalam bentuk masehat, bisa juga dalam bentuk kata bijak, bahkan bisa juga dalam bentuk cerita. Sekali lagi, ketika pesan terucap itu bisa digambarkan, bisa difisualkan, maka lebih mengena dan bisa tersimpan dalam memori jangka panjang.
Saya sering menekankan bahwa “Belajar (tholabul ‘ilmi) adalah kewajiban bagi seorang muslim. Maka marilah anak-anak kita selalu belajar dengan seungguh-sungguh”. Pesan moral seperti ini sangatlah penting untuk memotivasi anak-anak dalan belajar. Banyak kata-kata mutiara atau pesan moral tentang pentingnya mencari ilmu yang dapat kita temukan dalam Al-Qur’an dan hadits.
Selain pesan terucap dari orang tua dan guru, bisa juga pesan itu dalam bentuk tulisan. Banyak sekolah yang memasang tulisan-tulisan bijak sebagai bentuk pesan moral kepada anak. Pesan tertulis yang dibaca secara berulang-ulang akan membentuk karakter mulia pada anak.

NILAI AGAMA

Kita tidak usah bingung tentang apa itu pendidikan karakter. Dari abad ke 7 nabi kita Muhammad sudah mencontohksn karakter yaitu dari ke 4 sifat beliau, shiddiq, amanah, tabligh, fatonah. Terbukti bahwa menanamkan karakter itu tidak butuh biaya banyak. Tetapi yang paling sulit adalah Commitment and Consequent (CC) tiap-tiap sekolah dalam mendesain karakter anak. Banyak kita jumpai di sekolah, di masjid terdapat tulisan “Kebersihan adalah sebagian dari iman” tetapi dalam kenyataannya banyak sekolah-sekolah yang masih kotor, masjid tempat cuci kakinya sampai berwarna keruh. Dari situ saja kita bisa menilai dengan jelas bahwa CC itu sangatlah penting.
Semua itu harus dimulai dari perilaku gurunya. Jika guru itu perilakunya, kata-katanya, penampilannya, tindak tanduknya baik dan patutu dicontoh, anak-anak tidak akan kesulitan mencari sosok sorang model yang berkarakter. Sebaliknya, anda sudah bisa menabk sendiri jika guru tersebut tidak layak untuk ditiru. Kita (para gurua) terkadang sering “keceplosan” melabeli anak “nakal, malas dll” kebiasaan itu harus kita rubah dengan melabeli “tingkah polah” si anak dengan sesuatu yang positif. Misalnya, “Dery, kamu kalau diterangkan guru kok banyak ngobrolnya, nanti lama-lama kamu seperti Bung Karno yang pandai pidato” Dengan bahasa yang halus saya yakin anak akan tersipu malu, tertawa dan dengan sendirinya dia akan berhenti walaupun nanti dia akan mengulanginya lagi. Ini tentu berbeda jika kita membentak “kamu ini nakale koyo setan” Astahghfirullah, ingatlah bahwa ucapan seorang guru atau orang tua itu adalah do’a bagi anak.

Saya memahami bahwa banyak dari orang tua tidak tahu bagaimana seharusnya menjadi orang tua. Mereka seakan sudah memenuhi kewajiban mereka jika sudah bekerja keras setiap hari untuk memberi nafkah keluarganya. Mereka mengontrol pendidikan anak-anaknya hanya dari nilai yang mereka peroleh. Kalo dapat 100 ya di cap pinter, kalau dapat 50 ya di cap bodoh. Saya sering menjumpai orang tua yang melabeli “Goblok” kepada anaknya. Atau menyuruh anaknya belajar, sementara mereka menonton sinetron dengan tanpa mendampingi anaknya. Paling nantinya anaknya Cuma ditanya “sudah selesai PRnya?” jarang sekali yang mempertanyakan “kamu kesulitan yang mana? Saya Bantu, yuk!”. Komunikasi orang tua dan guru yang kurang terhadap anak akan mempengaruhi jiwa mereka. Mereka akan mengira bahwa mereka kurang diperhatikan. Ini pasti akan mempengaruhi kemampuan secara psikologis dan akademik anak-anak.
Saya sering sekali mengingatkan anak tentang pentingnya belajar, karena belajar adalah kewajiban sesuai sabda nabi “mencari ilmu itu wajib dari kita lahir sampai menuju liang lahat” sungguh nilai nilai agama kita telah mengajarkan karakter yang akan membimbing kita selamt dunia akhirat.

Selasa, 26 April 2011

SCRIPT LAGU BAHASA INGGRIS

MARY HAS A LITLE LAMB, LITTLE LAMB, LITTLE LAMB
MARY HAS A LITLE LAMB THE LAMB IS EATING GRASS
(lamb bias diganti dengan hewan yang lain dan disesuaikan makanannya)

                                                           
GOOD BYE (irama naik naik kepuncak gunung)

Go home, go home
It’s time to gohome
Good bye and see you again 2x

WHAT TIME IS IT? (sama dengan lagu water melon)

What time is it? 2x
I don't know 2x
a quarter past seven 2x
oh . .  I know 2x

Good bye my friend
Good bye teacher
Good bye and see you later 2x

NAMA HARI (irama potong bebek angsa)

Senin itu Monday
Selasa itu Tuesday
Rabo itu Wednesday
Kamis itu Thursday
Jum’at is Friday
sabtu Saturday
Sunday itu adalah hari minggu

HELY GUK GUK GUK

I have a little dog
I give name him hely
He likes playing with me
Running and running again

Hely                 (guk guk guk)
Come here       (guk guk guk)
Let’s go running with me 2x

ADA KODOK TEK OTEK, TEK OTEK

There is a frog tek otek tek otek
Beside river                  tek otek tek otek
Looking for a food        tek otek tek otek
Every morning ek otek tek otek
(bisa dirubah sesuai dengan binatang dan suara yang sesuai, misalnya cat dengan meong meong meong dll)

IF YOU’RE HAPPY AND YOU KNOW IT (kalau kau suka hati tepuk tangan)

If you’re happy and you know it clap your hand / step your feet / shout “hurray” / do all three (2x)
If you’re happy and you know it
And you really ought to show it
If you’re happy and you know it
Clap your hand




Selasa, 12 April 2011

DIINGATKAN OLEH ANAK KELAS 2 SD



“Hayo, makan sambil berdiri!” seorang anak kelas 2 SD menegur saya dengan polos di dalam bis.  Waktu itu kami dalam perjalanan menuju tenpat Out bond yang saya selenggarakan bersama-sama teman-teman (MAHESWARA  OUTBOND). Saya sangat kaget dan tersipu malu. Malu pada diri saya sendiri dan malu pada si anak tersebut. Saya merasa malu karena saya seorang guru. Tidak seharusnya saya melakukan hal tersebut. Sayapun minta maaf kepada anak itu, saya bilang :maaf  dik, saya lupa”

Anak tersebut berasal dari SD THE NAFF Candi Sidoarjo, Jawa Timur. Saya jadi teringat tentang pendidikan berkarakter yang sedang dikampanyekan pemerintah akhir-akhir ini. Memang benar terkadang kita lupa ajaran luhur nenek moyang kita tentang tata karma atau sopan santun. Seperti, makan dan minum tidak boleh berdiri, tidak boleh duduk diatas orang tua, dan masih banyak lagi.

Saya sangat bersyukur karena masih diingatkan oleh Allah tentang perilaku saya sehari-hari. Saya akan mencoba menanamkan budaya yang luhur tersebut kepada anak didik saya. subhanAllah, kepolosan seorang anak telah memberikan pencerahan kepada saya.
Dalam kesempatan yang lain, saya mengikuti pengajian yang diselenggarakan oleh Ma’had Teebee dalam acara Bening Hati Indonesia (BHI) di PBIC KAZA. Tema pengajiannya adalah “islam dan kesehatan” pada acara tersebut ada Tumpengan dan makan bersama yang dipersembahkan oleh anggota jama’ah yang sedang mengaqiqohi anaknya, Alhamdulillah. Saya dapat rizqi dan ilmu pada waktu itu.

Dua hari setelah acara tersebut saya mengikuti pengajian rutin tiap selasa yaitu tafsir Al-Qur’an, saya waktu itu duduk disebelah rekan saya. Saya kaget waktu dia menegur saya “mas, sampeyan kemarin minum sambil berdiri di KAZA ya?” saya agak lupa dan spontan menjawab “iya mas”. Kemudian ia berkata lagi “besok besok jangan diulangi lagi, kalau ketahuan Abuya (Gus Luthfi, guru kami) sampeyan didukani”. Sayapun menyadari bahwa merubah kebiasaan itu membutuhkan waktu, walau hanya hal sepele yaitu minum harus duduk.

Rabu, 06 April 2011

MENGAJAR BAHASA INGGRIS TENTANG ANIMAL DI KELAS BESAR

Seperti biasa, awal sebelum memulai pelajaran saya dan anak anak “greeting dulu”. Saya sngta menghargai semangat mereka ketika menjawab greeting saya, luar biasa!. Mereka datang ke sekolah dengan satu tujuan yaitu mempelajari hal hal baru.
Pada fase awal saya memulainya dengan menyanyikan lagu seperti di bawah ini :

There is a frog (rekotok – rekotok)
Beside river (rekotok – rekotok)
Looking for a food (rekotok – rekotok)
Every morning (rekotok – rekotok)

Lagu di atas nadanya sama dengan lagunya susan dan Ria Enes yang berjudul kodok dan semut. Lagu tadi bisa diubah sesuai selera guru dengan mengkombinasikan gerakan dan suara binatang. Jadi sambil bernyanyi anak anak juga melompat seperti kodok. Sungguh sangat seru!
Pada fase kedua saya mengenalkan tentang kosa kata baru yang bertema animals. Kita bisa menggunakan media flashcard, buku paket proyektor dll. Biasanya saya menyuruh anak membaca buku bersama sama dengan menunujuk gambar yang ada di buku tersebut. Banyak variasi yang bisa kita gunakan.  
Pada fase inti saya menanyakan “do you have a pet?” sebagian menjawab yes dan no. yang  menjawab yes saya beri pertanyaan kedua yaitu, “what is your pet?”
Mereka pun menjawabnya bermacam macam. Rabbit, cat, bird fish etc. pertanyaan ini saya selingi dengan permainan menangkap bola. Jadi setiap anak yang menangkap bola harus menjawab pertanyaan tadi. Kemudian anak tersebut mengulangi pertanyaan tersebut dengan menanyakan ketemannya sambil melempar bola, demikian seterusnya.
sebenarnya komunikasi seperti ini sudah cukup untuk satu kali pertemuan yaitu anak bisa bertanya jawab tentang pet yang dimilkinya atau tidak dimilikinya. Mereka bisa berkomunikasi secara sederhana dengan teman-temannya atau gurunya. Saya biasanya membuat checklist seperti ini

Do you have a pet?
No
Name
Pet
1
Enstein
Yes
2
Alpha edision
No
3
Newton
Yes

Anak anak cukup menjawab dengan yes atau no. kalau kelasnya besar, 40 atau lebih per kelas, ini bisa disiasati yaitu dengan mempraktekannya secara berkelompok. Misalnya 10 orang mewawancarai temannya, yang lain akan menunggu untuk diwawancarai. Ini sangat menarik karena anak-anak akan akan berfikir”siapa ya yang akan menanyai saya” mereka akan saling memanggil “ ayo kamu kesini” dll. Jadi kegiatan ini mungkin hanya membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit. Kelas akan terlihat ramai atau ribut. Anak anak akan berlarian kesana kemari, tetapi biarkanlah ini memang dunia mereka jangan sampai kelas kita (bahasa inggris) siswa hanya duduk manis membaca, menirukan lalu mengerjakan buku ini sangat membosankan. Jangan menyalahkan anak jika mereka malas membaca.
Selanjutnya, dengan metode yang sama kita beri table yang ke dua seperti dibawah ini:

What is your pet?
No
Name
Pet
1
Enstein
Rabbit
2
Alpha edision
I don’t have it
3
Newton
Snake

Setelah anak anak selesai, kita bisa mengecek pekerjaan mereka dengan menanyakan kepada anak yang telah diwawancarai dengan pertanyaan yang sama.

Bagaimana cara menilainya? Kita bisa menilai dengan menggunakan table seperti di bawah ini:
Nama
Pronunciation
1, 2, 3, 4, 5
Keberanian
1 , 2, 3, 4, 5
 enstein
4
2
alpha E
 3
5
 Newton
4
3

Saya yakin anda semua sudah tau cara menjumlahkannya yaitu dengan prosentasi total nilai anak tesebut. Jadi dengan metode ini kita sudah bisa mempraktekkan pengajaran berkarakter.

Pada fase terakhir saya biasanya menyuruh anak anak mengerjakan soal yang saya buat sendiri atau di buku dengan berjumlah paling banyak sepuluh soal. Soal-soal tersebut bisa menyalin tulisan, melengkapi tulisan, merangkai kata sederhana, matching gambar dan kata dll.
Sebelum pulang sekolah saya membiasakan anak anak untuk berdoa dulu dengan berterima kasih kepada Allah atas nikmat kesehatan dan ilmu yang sudah diberikan hari ini. Kemudian anak anak pulang dengan menyalami saya sambil membaca sholawat bersama sama. subhanAllah, hidup ini terasa indah sekali!

JUMLAH SISWA YANG BESAR DI KELAS BUKAN SALAH GURU
Seperti kita tahu bahwa rata rata jumlah anak di sekolah dasra tiap kelas, terutama disurabaya, masih sekitar 35-40an. Inilah yang menghambat hasil belajar anak. Apapun teorinya di training dimanapun gurunya tingkat keberhasilannya akan relative rendah. Belum lagi seabrek administrasi yang harus dibuat guru setiap hari. Masalah guru honorer juga akan menghambat proses belajar mengajar. Saya tidak yakin dengan program pemerintah yang menganggarkan 20% untuk pendidikan akan memberi perubahan yang signifikan dilapangan dalam waktu dekat ini. Masih banyak sekali sekolah yang bingung untuk menulis laporan BOS. Bahkan merencanakan anggaran (RAPBS) saja masih banyak yang copy paste. Banyak sekali yang harus dibenahi, mulai dari administrasi dinas, mindset PNS dan non PNS sarana dll. Kenapa saya bilang mindset tidak lain adalah berdasarkan pengalaman saya sendiri ketika mengajar disekolah. Ada yang hanya mengajar dengan metode yang sama setiap hari, membaca, menulis, mengerjakan soal, menyalin soal pilihan gandapun pernah saya temui.
Tetapi apakah kita akan membiarkan saja ini terjadi? Saya yakin anda semua tidak akan melakukannya. Bagi saya menjadi guru adalah anugrah yang luar biasa yang diberikan Allah kepada saya. Saya bisa setiap hari hadir di majlis ta’lim (sekolah) bertemu dengan senym anak-anak, dan mengamalkan ilmu yang saya miliki. Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah. Mengamalkan ilmu dengan ikhlas akan meningkatkan kualitas iman kita kepada Allah. Saya sangat yakin anda semua berpendapat sama dengan saya.
Banyak sekali yang bisa kita lakukan seperti browsing di internet untuk mencari materi pembelajaran, browsing lagu di you tube, membaca buku dll. Guru saya mengajarkan sediakanlah setiap hari waktu sekitar 5-10 menit untuk membaca dan 5-10 menit untuk menulis.


TAK SELAMANYA LANCAR

Aku dan kawan-kawan mendirikan Out bond training and out door activity. Kebetulan sabtu besok kita ada job di sekolah omku, namanya The Naff. Pada awalnya pembicaraan terjadi sangat lancar. Kami menyodorkan proposal dengan harga yang sudah kami epakati bersama. Alhamdulillah!
Hari demi hari kami mempersiapkan semuanaya. Kami menghubungi seluruh tim untuk rapat bersama. Rapatnya ditempat yang sangat keren, yaitu Warung Ijo atau WI. Memang kami biasanya ngopi an “cangkruk” disana. Karena tempatnya memang disebelah kampus kami dulu. Semuanya kelihatan lancar permainan dan segala keperluan kami bicarkan sampil ngopi dan face book an.
2 minggu sebelum hari H, pihak sekolah meminta kunjungan ke peternakan sapi. Jadi biar tidak hanya out door saja tetapi ada kegiatan edukasinya juga. Kami pun menyanggupinya. Kami menghubungi pihak peternakan dan mereka setuju! Bagi kami ini adalah masukan yang bagus untuk promosi kami selanjutnya. Alhamdulillah beres semunya!
Satu minggu sebelum hari H, uang DP belum juga turun, kami semua bingung harus nyari modal dimana. Kami ini adalah tim yang baru berdiri, jadi bisa dibilang keuangan kami juga pas-pasan. Akhirnya, dengan susah payah kami mencari pinjaman, semua bisa dibilang beres.
Beberapa hari menjelang hari H, ada kabar buruk dari pihak peternakan. Ada surat dari pusat yang isinya bahwa peternakan akan igunakan pelatihan selama beberapa hari dan tepatnya di hari H, tempatnya masih digunakan. Astaghfirullah, kami pun bingung mencari alternative lain. Akhirnya selama tiga hari rekan kami terus survey Malang–Surabaya. Kami pun memutuskan untuk mengambil kunjungan di Bakpao Waloh di Malang. DP sudah di berikan, pihak sekolah sudah diinformasikan.
Kabar burukpun datang, ternyata pihak sekolah tidak bersedia berkunjung ke Bakpao Waloh. Alasannya tahun kemarin sekolah sudah mengunjunginya. H- 1 kami belum mendapat tempat untuk kunjungan. Akhirnya salah satu tim kami menghubungi partner kami yang ada di kawasan Batu. Kami semua sangat tertekan karena baru kali ini kami mendapat klien yang sangat ruwet. Bisa dibilang kami “kalang kabut”
Pada hari H kami pun masih kekurangan. Tim yang seharusnya berkumpul jam 5 telat sampai setengah jam dikarenakan banjir. Kami pun terlambat datang ke sekolah seharusnya berangkat jam 6 kami datang sekitar jam 7 kurang 15 menit. Saya pribadi merasa sangat takut kalo dimarahi oleh sekolah, mengingat pemilik sekolah adalah om saya sendiri dan kepala sekolahnya adalah adik kandung saya. Tetapi, ketakutan saya sirna karena ternyata pesrta dari sekolah masih banyak yang belum datang, sebagian sudah masuk kedalam Bus. Lega sekali, meskipun salah, saya tidak terlalu salah juga. Karena bus masih menunggu anak lain. Akhirnya sekitar jam 7 tepat kami semua berangkat bersama. Ditengah perjalanan si “Gapron” pun beraksi dengan lihainya memandu anak anak didalam bus sambil perkenalan dengan bahsa yang kocak, suasana pun terlihat sangat santai.
Di tempat out bond tepatnya di songgoriti kami pun memulai out bond dengan lancar. Meski ada kekurangan yaitu persiapan alat yang kurang, tetapi kami bisa mengatasinya dengan lancar. Hujan gerimis mengguyur kami, semakin lama, semakin deras. Anak anak kami suruh berteduh di Restoran dekat kolam renang. Sterlah hujan reda, kami pun melanjutkan out biond dengan lancar. Anak anak sangat ceria meski baju mereka kotor sekali terkena Lumpur basah. Setelah out bond selesai anak anak berenang di kolam dan makan siang bersama- sama. Perjalanan kami lanjutkan ke tempat kunjungan. Yaitu di tempat bonsai. Kami baru menemukan tempat kunjungan beberapa jam sebelum kunjungan dilaksanakan. Wow, sungguh kerja keras didalam tekanan. Alhamdulillah semua beres.
Tiba tiba masalah lain muncul yaitu koordinasi antara kami, pihak sekolah dan wali murid. Dari awal kami menginformasikan bahwa kunjungannya adalah ke wisata agro, tetapi wali murid mengira ke pasar agro. Dengan menyewa bus sendiri wali murid sudah menunggu disana. Pihak sekolah menanyakn kepada tim kami jawabannya tidak sama. Jadi akhirnya banyak komplain muncul.dan kami pun sangat tertekan pada waktu itu untuk menjelaskan. Salah satu wali murid bahkan menjemput paksa anaknya dengan menyuruh kami mengantar anaknya ke Selcta. Semua wali murid bingung, “katanya tidak jadi ke selecta sekarang kok menuju kesana” akhirnya adik saya harus menjelaskan semuanya ke wali murid dan komplainnya pun bisa diatasi. Tetapi ini menunujukkan bahwa tim kami kurang solid atau kompak. Masih nampak “kacau”. Bagaimanapun, semua sudah terjadi. Akhirnya kami pulang sekitar jam 3 siang dan sampai di Sidoarjo sekitar jam 6 sore.
Pelajaran yang dapat di ambil
1.         Hendaklah kita mempunyai plan B untuk persiapan jika plan A gagal.
2.         Di dalam sati tim harus jelas dulu informasinya seperti tempat, waktu dll.
3.         Tepat waktu, karena ini adalah pentyakit yang sulit disembuhkan!

Senin, 14 Februari 2011

PROPOSAL OUT BOND

MAHESWARA OUT BOUND

Base camp : Jln. S. Parman. Gg 4a  No: 26: Waru-  Sidoarjo  telp 085733303909
A.     PADAHULUAN
Game outbound tidak lain merupakan pelatihan manejemen diri yang memadukan olah pikir, rasa, dan raga. Dan diadakan di alam terbuka serta dikondisikan di luar kebiasaan. Outbond Maheswara mampu menghadirkan nuansa baru dengan kemasan berbeda dibanding training konvensional selama ini, hanya di dalam kelas, formal dan membosankan (kadang-kadang bikin ngantuk).
Dengan kerangka pikir diatas, kami dari Team Outbound-leadership-Adventuring-and Social activity MAHESWARA menawarkan program pelatihan (outbound training) yang dapat merealisasikan Organisasi anda memiliki Manajemen yang Efektif.

B.      TUJUAN dan MAKSUD
Tujuan
Tujuan utama kegiatan pelatihan ini adalah melatih para peserta untuk mampu menyesuaikan diri (adaptasi) dengan perubahan yang ada dengan membentuk sikap professionalisme para peserta yang didasarkan pada perubahan dan perkembangan traits (sifat mendasar) dari individu yang meliputi aspek trust, belief, dan komitmen serta kinerja yang diharapkan akan semakin lebih baik. Sikap dan perilaku professionalisme.
Maksud
Meningkatkan soft skill, salah satunya melalui kegiatan games outbound atau outbound games. Berfikir kedepan (visionary Thinking), Manajemen Strategi Kepemimpinan Hubungan interpersonal, Komunikasi Efektif, Memotivasi diri dan orang lain serta Pengelolaan diri.
Kegiatan Outbond ini Menjadi alternatif wisata edukatif, penyegaran sekaligus pembelajaran bagi peserta yang sarat dengan muatan positif.
C.     METODE OUT BOND MAHESWARA
Metode yang digunakan dalam outbound training Maheswara adalah: Permainan individu dan kelompok, Petualangan individual, Ceramah dan Diskusi, serta evaluasi dari kegiatan yang dilakukan serta manfaat yang diharapkan.

D.     MACAM KEGIATAN OUT BOND
Dalam kegiatan ini, kami menawarkan kegiatan dalam bentuk kepemimpinan, petualangan, ketangkasan. Kegiatan kami  berupa Full Outbound. Games yang disiapkan untuk ini berdasarkan keinginan aplikasi dari sekolah atau konsumen. Didalamnya mencakup team building, self confident, interaksi, komunikasi, pemikiran dan lainnya dengan pengamatan yang lebih komplek lagi

E.                  TEAM OUT BOND
Team Out Bond MAHESWARA terdiri dari team yang berpengalaman dan profesional dalam bidangnya. Moto team MAHESWARA adalah kepuasan anda kebanggaan kami.

F.                   PENAWARAN KERJA SAMA
Berikut adalah produk/paket kegiatan outbound yang kami tawarkan:
1.       Paket  Pelajar 
Kami akan menawarkan program  EXPERIENTAL BASED STUDY. Program tersebut merupakan kemasan kegiatan berupa pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga bisa dapat aplikasikan dengan menggunakan alam terbuka sebagai media. Proses pengenalan diri, minat dan bakat berbasiskan kurikulum sekolah sehingga program ini sangat efektif untuk para peserta karena mereka terlibat untuk melihat, mendengar dan langsung berbuat (experiential learning). Program ini dirancang bagi sekolah-sekolah unggulan kota, dengan tetap mengutamakan faktor keselamatan (safety Procedure) dan kenyamanan.

Paket pelajar Rp 40.000 per anak. Minimal  100 anak
Paket ini kami khususkan untuk peserta yang masih duduk dibangku sekolah. Dalam paket ini, fasilitas yang kami berikan : memilih 2 game besar dan 4 game kecil.
Fasilitas
1.  Program pelatihan
2.   Bahan games
3.   Tenaga fasilitator games/ trainer
4.  Dapat Memilih game besar dan game kecil
2.      Paket  Dewasa.
·        Dalam Kota Rp 50.000,- per orang minimal 100 anak.
Paket ini kami khususkan untuk karyawan-karyawan dalam perusahaan atau instansi-instansi kelembagaan. Dalam paket ini, fasilitas yang kami berikan : memilih dua game besar dan empat game kecil.
Fasilitas
1.  Program pelatihan
2.   Bahan games
3.   Tenaga fasilitator games/ trainer
4.  Dapat Memilih game besar dan game kecil
·        Luar Kota Rp 60.000,- per orang. minimal 100 anak.

Paket ini kami khususkan untuk karyawan-karyawan dalam perusahaan atau instansi-instansi kelembagaan. Dalam paket ini, fasilitas yang kami berikan : memilih dua game besar dan empat game kecil.
Fasilitas
1.  Program pelatihan
2.   Bahan games
3.   Tenaga fasilitator games/ trainer
4.  Dapat Memilih game besar dan game kecil

3.      Paket Istimewa.
Rp 180.000, per orang. Minimal 100 orang
Paket ini di ajukan dalam kegiatan penuh yang menjadi tanggung jawab dari tempat, transportasi, makan dan semua yang berkenaan dengan outbound menjadi tanggung jawab penuh pihak MAHESWARA management. Kegiatan ini dilakukan selama dua hari diluar kota.
Fasilitas
1.     Program pelatihan
2.    Tenaga fasilitator games/ trainer
3.   Dapat Memilih game besar dan game kecil
4.   Villa
5.   Makan ( 4x )
6.   Coffe break.
7.   Transportasi.
8.   Dokumentasi (foto kegiatan berupa VCD)
9.   Sertifikat.

Acara Kegiatan Paket Istimewa.
1.    Game Tantangan.
2.    Fun Game.
3.    Reakreasi.
4.    Api Unggun.

Berikut macam game yang kami tawarkan dari MAHASWARA management.
Game besar meliputi :
1.      Flaying fox                                           4.  Perahu Goyang
2.      Spiderweb                                           5. meniti tali
3.      Repling                                                6. Birma Crosser

Game kecil meliputi :
1.      Pipa Bocor                                          6.  Gegana Bom
2.      Bola bergilir                                         7.  Jembatan Bergoyang
3.      Folding carpet                         8.  dll
4.      Holahop gembira                    
5.      Evakuasi bambu