Jam menunujukkan10.40 pagi pada hari sabtu tanggal 11 Juni 2011. Pada waktu itu pembelajaran memang tidak penuh karena anak-anak sudah selesai ulangan kenaikan kelas (UKK). Pembelajaran biasanya disi dengan membuat kreatifitas, remidi menggambar dll. Suasanya tidak seperti pembelajarna hari hari biasa. Sedang para guru juga sibuk menulis hasil belajar siswa atau rapor, dan administrasi kelas lainnya.
Kelas siang masuk jam 10.00. seperti biasa, anak anak berbaris sebelum masuk kelas. Mereka mengawali pembelajaran dengan berdo’a terlebih dahulu. Ada yang tidak biasa pada hari ini, saya merasa kelas saya kok longgar sekali, padahal jumlahnya ada 41 anak. Setelah saya absent ada sekitar 10 anak yang belum hadir pada waktu itu. Kegiatan dikelas dimulai dari pembahasan UKK dan remidi bagi anak anak yang tidak mencapai nilai minimal (KKM).
Tiba tiba seorang ank nyelonong masuk, terus menjabat tangan saya. Dia terdiam, lalu setelah saya lepas tangannya dia langsung duduk tanpa berbicara apa-apa. Kemudan saya panggil anak itu. Saya bertanya “Le, kira-kira kalau terlambat bilang apa?” anak itu dengan menunuduk malu bilang “ I am sorry teacher, I am coming late” langsung saja dia ingin kembali ke tempat duduknya sebelum saya menjawab ungkapannya. Kemudian saya panggil lagi. “sebentar, kalau belum disuruh duduk jangan duduk dulu, saya belum menjawab permintaan maaf kamu” kemudian saya menyuruh anak itu untuk duduk “ok, please sit down” anak itu langsung duduk tanpa mengucapkan satu patah katapun. Saya pun memanggilnya kembali, “nak, kalau dipersilahkan duduk kamu seharusnya bilang apa?” “thank you, teacher” jawabnya.
Membudayakan bilang permisi, silahkan, terima kasih dan maaf ternyata bukan hal yang mudah. Sebenarnya ini bukan salah si anak tadi. Terkadang orang tua dan guru sering sekali lupa untuk mengucapkan ungkapan-ungkapan tersebut. Misalnya “Dery, bersihkan papan tulisnya” padahal kita seharusnya bilang “Dery, tolong bersihkan papan tulisnya” orang tua terkadang juga sering menyuruh “Dery belikan sabun di took depan” tanpa memperdulikan kata tolong. jangan lupa untuk bilang terima kasih kepada si Dery itu setelah selaesai mengerjakan apa yang kita perintahkan. Budaya seperti ini harus kita gali lagi untuk menciptakan kominikasi antara guru dan murid atau orang tua dan anak secara santun di sekolah dan di rumah. Kalau hal ini dibiasakan, secara otomatis akan masuk dibawah alam sadar si anak tersebut dalam berkomunikasi dengan teman, orang tua, guru, saudara dan orang lain”. Saya sendiri waktu kecil hamper tidak pernah mendengar ayah atau ibu saya bilang terima kasih kepada saya. Bukan berarti mereka tidak menyayangi saya. Tetapi mereka hanya tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan anak-anaknya”. Baru ketika saya sudah besar dan bekerja saya mendengar “terma kasih ya nak” dari mereka.
Dalam kasus lain, saya sering melihat anak-anak kalau meminjam pensil mereka hanya bilang “hei, pensil, pensil” atau “nyeleh pensile”. Dan si pemilik pensil itu hanya diam sambil memberikan pensilnya. Lebih parah lagi, ketika mengembailkan, si anak tadi hanya melemparkan ke bangkunya tanpa bilang “terima kasih”, Astaghfirullah. Betapa indahnya jika kebiasaan itu berubah menjadi :
“permisi, Dery, saya pinjam pensilnya ya?”
“oh ya silahkan”
“terima kasih Dery”
“Sama-sama”
MEMBIASAKAN DI KELAS
Peran guru disini sangat menentukan mengingat banyak orang tua yang belum tahu cara mendidik anak dengan baik, dalam arti bagaimana cara membiasakan berbahasa yang santun. Saya menyadari bahwa jarang sekali orang tua yang mau mengucapkan terima kasih setelah menyuruh anaknya melakukan sesuatu, bilang permisi ketika lewat didepan anaknya atau masuk kamar anaknya, bilang silahkan ketika anak minta tolong, dan bilang maaf jika bersalah. Bapak / ibu guru bisa menerapkan dikelas dengan memberi model dan memnatau kominikasi siswa dengan siswa, atau siswa dengan guru. Guru hanya butuh membetulkan jika anak berbicara kurang sopan. Jika anak mengatakan “bu pipis” kita langsung memberitahu mereka untuk mengatakan “bu permisi, saya mau pipis” ketika kembali dari kamar mandi, suruh si anak tersebut untuk bilang, “terima kasih, bu”. Membiasakan hal tersebut mungkin memerlkan waktu berbulan-bulan, tergantung Commitment and Consequent (CC) dari guru tersebut. Jika anak sudah bisa membiasakannya dengan sendirinya kebiasaan itu akan tertanam didalam benaknya sampai dia dewasa. Saya masih ingat ketika masih kecil pakdhe saya mengatakan “jangan duduk di atas jika orang tua duduk di bawah”. Nah, ini bukti bahwa kita sebagai guru harus lah hati-hati dalam menangani anak-anak. Bahasa kita akan ditiru dan diingat oleh anak-anak sampai mereka dewasa. Jika kita menanamkan kebaikan kepada mereka, mereka akan terus menghormati kita meski kita sudah tidak kenal merka lagi. Mereka tidak akan melupakan guru mereka di bangku SD. Jika kebaikan yang kita tanamkan tersebut ditanamkan ke orang lain oleh mereka, maka pahala kita akan terus mengalir, subhanaAllah!