Rabu, 15 Juni 2011
MENGHAFALKAN UNGKAPAN SEDERHANA DENGAN CARA MENGHILANGKAN SEBAGIAN KATA
Excuse me, may I go to toilet, please! Setelah kita memcah ungkapan tersebut menjadi 5 suku kata, kita menyuruh anak membacanya dengan menghilangkan excuse me, kemudian mereka membaca lagi dengan May I dihilangkan, kita bisa mengecek memori merka dengan menyuruh beberapa anak membaca ungkapan tersebut yang dua suku katanya sudah dihilangkan.
Selanjutnya masih dengan cara yang sama, kita menghilangkan go to, lalu toilet, lalu please. Setelah semua kata-kata kita hilangkan (hapus di papan) kita menyuruh anak-anak melafalkan ungkapan tersebut. Kita Tanya mereka satu persatu, kita suruh mereka berdialog dengan teman sebelahnya terakhir kita suruh mereka berdialog dengan kita (guru).
Setelah anak anak hafal ungkapan tersebut, kita bisa memperbaiki pronounciation mereka. Ini adalah cara sederhan dalam menghafalkan ungkapan. Tetapi yang harus kita ingat adalah ungkapan tersebut harus sesuai dengan jenjang anak, usahakan ungkapannya sesederhana mungkin yang gampang diucapkan atau di praktekkan dalam komunikasi sehari-hari. Berikut ini adalah daftar ungkapan-ungkapan tersebut:
1. Excuse me, may I go to toilet please!
2. I am sorry, I am coming late.
3. I am sorry, I forget my homework
4. Diah : May I borrow your book please?
Dini : yes, please
Diah : thank you
Dini : you’re welcome
Jika anak anak sudah biasa mempraktekkan ungkapan-ungkapan tersebut dalam dialog sehari hari mereka, maka kita sudah berusaha menjadikan kelas kita sebagai kelas bilingual sederhana. Alhamdulillah!
Minggu, 05 Juni 2011
SEMANGAT PAGI
Seorang ulama, Athif Abdul ‘Id pernah berkata: “Tersenyumlah, karena senyuman anda akan meutup pintu kesedihan dan keputusasaan, sekaligus menerangi lampu-lampu kelonggaran dalam kehidupan kita”
Pada suatu ketika saya mengikuti workshop tentang pendidikan berkarakter di hotel grand kalimas Surabaya. Pembicaranya adalah ustadz Najib Sulhan. Saya merasa pernah mendengar namanya tetapi saya agak lupa lupa ingat. Pada saat beliau memperkenalkan diri, saya baru ingat bahwa beliau adalah penulis tetap majalah MAYARA. subhanaAllah Allah telah mempertemukan aku dengan orang yang sangat luar biasa. Dalam hati saya hanya bersyukur Alhamdulillah.
Pada kesempatan itu, saya mendapatkan sebuah kejutan yaitu, kejutan salam. Saya sangat terkejut ketika beliau menyalami kami dua kali dengan semangat yang berbeda. Salam yang pertama bernada pelan dan “lemes” kami semua pun menjawab dengan kurang semangat. Salam kedua, dengan nada berapi –api, kamipun seolah bangun dari kemalasan kami pagi itu. Luar biasa, salam yang bersemangat menghasilkan respon yang bersemangat pula!
Saya akhirnya menyadari bahwa setiap hari ketika bertemu murid, saya kaang kadang masuk dengan wajah lesu bahkan mengucapkan greeting dengan kurang bersemangat. Saya merasa bersalah karena kurang memperhatikan hal tersebut. Memang kelihatannya sepele, teapi dampaknya ke anak didik saya sangat besar. Saya telah mengendurkan semangat mereka yang datang dari rumah dengan rapi membawa tas yang hanya bertujuan untuk belajar menjadi anak yang pandai.
Setelah workshop, saya mencoba mempraktekkannya di kelas saya. Saya salam dua kali. Yang pertama dengan nada “lemes” dan yang kedua dengan nada bersemangat. Ternyata respon anak anak sama dengan respon para guru kerika mengikuti workshop. Kami para guru terkadang sering memarahi anak didik kami ketika melihat mereka ngantuk atau duduk dengan menyandarkan tubuh mereka di atas bangku. Kita terkadang tidak menyadari bahwa kita juga sering menciptakan suasana yang tidak bersemangat. Ya Allah ampunilah keteledoran kami.
Ketika kita para guru bersemangat dalam mengajar, saya yakin para murid pun akan bersemangat pula. Mereka akan menbak nebak, “kira kira apa ya yang akan diajarkan bapak / ibu guru hari ini? Saya sudah tidak sabar!” mereka akan terus termotivasi jika melihat keramahan kita, Senyum kita dan semangat kita. Siapa lagi panutan mereka diseklah kalau bukan kita para guru. Hal ini tentu akan berbeda jika kita serng memasang muka “kecut” di dalam kelas. Mereka akan berfikir “lama sekali, kok nggak istirahat ya!, kapan ya aku akan pulang?”. Jadi marilah kita selalu mengawali pembelajaran dengan penuh semangat.
CERITA
Cerita merupakan hal yang menarik bagi anak anak. Mereka akan bias berimajinasi sesuai dengan cerita tersebut. Mereka mengira-ngira tempat, tokoh watak tokoh dan bahkan meeka bisa mengambil hikmah dari cerita tersebut. Mereka akan belajar budi pekerti dari situ jika cerita tersebut memang layak umtuk di konsumsi anak-anak.misalnya cerita tentang Ibnu Hajar, para pahlawan, cerita pribadi gurunya dll. Akan banyak keteladanan yang bisa dicontohkan dari cerita-cerita tersebut. Hal ini tentu akan berbeda jika anak-anak mendengar cerita horror dari sebuah film di TV atau cerita mistis dari majalah atau koran. Mereka akan merasa takut dengan sesuatu yang tidak jelas. Banyak anak-anak kita ketakutan kalau masuk toilet. Mereka selalu berdua jika ingin pipis dan berak. Bahkan saya menjumpai bayak anak didik saya yang membeli cerita horror pendek seperti kuntilanak, gondoruwo kuburan dan lain lain dalam buku kecil seharga Rp. 500. saya langsung melarang mereka membeli buku kecil tersebut. Hal ini akan masuk di alam bawah sadar mereka tentang hantu atau apalah yang kelihatan serem sehingga membuat mereka menjadi seorang penakut.
HUMOR CERDAS
“Nak kamu itu kok aktif sekali seperti Gus Dur, jangan naik naik bangku ya! Itu tudak sopan dan berbahaya” ungkapan tersebut akan membuat anak tidak membenci kita. Beda kalau kita bilang “ kamu ini nakal sekali seperti kuda liar” terang aja si anak akan semakin liar. Mereka akan membenarkan keliaran mereka karena kita sudah mengatakan seperti kuda. Kalau tidak liar bukan kuda namanya!!.
“Apa nama bulan yang mempunyai 28 hari?” semua anak menjawab Pebruari. Saya pun langsung menyangkalnya, “salah” mereka semua tidak terima “iya, teacher Pebruari kan jumalah harinya 28” akhirnya saya bertanya balik “lho, memangnya Januari sampai Desember tidak punya 28 hari?” akhirnya dengan sedikit “kethus” mereka bisa menerima.
Humor seperti ini dibutuhkan agar suasana kelas tidak terlalu tegang. Karena saya mengajar di tingkat SD, maka saya jadikan kegiatan pembelajaran dengan rilex. Saya sedikit sekali mencatatkan di papan tulis, biasaya hanya sepuluh soal. Saya masih sering menjumpai guru kelas menyuruh anak-anak menyalin soal pilihan ganda dari buku paket atau LKS ke buku tulis mereka. Menurut saya kegiatan ini terlalu membuang-buang waktu karena anak bukan hanya fokus kepada isi materi tersebut, tetapi anak akan lebih terfokus pada menyelesaikan tulisan tangan.
Dimanakah Ibu Kartini bekerja setelah menikah? Semua anak berfikir ada yang menjawab “di kecamatan, di kantor, di kelurahan di PERTAMINA dll” Sebernarnya kita semua tahu bahwa Ibu Kartini tidak bekerja di kantor, karena pada waktu itu yang ada mungkin hanya kantor pemerintah. Ini hanya memancing reaksi anak karena kita mengingatkan mereka tentang Ibu Kartini dan yang berhubungan dengan Ibu kartini. Akhirnya saya menjawab pertanyaan saya sendiri. “Ibu Kartini bekerja di PLN” Semua anak protes, “pak waktu itu kan belum ada PLN” Eit, tunggu dulu! “ibu Kartini menulis buku namanya Hbis Gelap Terbitlah Terang, jadi dia bekerja di PLN” Suasana kelas pun tidak menjenuhkan lagi.
PESAN MORAL DAN PESAN TERTULIS
Pesan yang terucap sering kali disampaikan oleh orang tua dan guru kepada anak. Pesan yang terucap bisa dalam bentuk masehat, bisa juga dalam bentuk kata bijak, bahkan bisa juga dalam bentuk cerita. Sekali lagi, ketika pesan terucap itu bisa digambarkan, bisa difisualkan, maka lebih mengena dan bisa tersimpan dalam memori jangka panjang.
Saya sering menekankan bahwa “Belajar (tholabul ‘ilmi) adalah kewajiban bagi seorang muslim. Maka marilah anak-anak kita selalu belajar dengan seungguh-sungguh”. Pesan moral seperti ini sangatlah penting untuk memotivasi anak-anak dalan belajar. Banyak kata-kata mutiara atau pesan moral tentang pentingnya mencari ilmu yang dapat kita temukan dalam Al-Qur’an dan hadits.
Selain pesan terucap dari orang tua dan guru, bisa juga pesan itu dalam bentuk tulisan. Banyak sekolah yang memasang tulisan-tulisan bijak sebagai bentuk pesan moral kepada anak. Pesan tertulis yang dibaca secara berulang-ulang akan membentuk karakter mulia pada anak.
NILAI AGAMA
Kita tidak usah bingung tentang apa itu pendidikan karakter. Dari abad ke 7 nabi kita Muhammad sudah mencontohksn karakter yaitu dari ke 4 sifat beliau, shiddiq, amanah, tabligh, fatonah. Terbukti bahwa menanamkan karakter itu tidak butuh biaya banyak. Tetapi yang paling sulit adalah Commitment and Consequent (CC) tiap-tiap sekolah dalam mendesain karakter anak. Banyak kita jumpai di sekolah, di masjid terdapat tulisan “Kebersihan adalah sebagian dari iman” tetapi dalam kenyataannya banyak sekolah-sekolah yang masih kotor, masjid tempat cuci kakinya sampai berwarna keruh. Dari situ saja kita bisa menilai dengan jelas bahwa CC itu sangatlah penting.
Semua itu harus dimulai dari perilaku gurunya. Jika guru itu perilakunya, kata-katanya, penampilannya, tindak tanduknya baik dan patutu dicontoh, anak-anak tidak akan kesulitan mencari sosok sorang model yang berkarakter. Sebaliknya, anda sudah bisa menabk sendiri jika guru tersebut tidak layak untuk ditiru. Kita (para gurua) terkadang sering “keceplosan” melabeli anak “nakal, malas dll” kebiasaan itu harus kita rubah dengan melabeli “tingkah polah” si anak dengan sesuatu yang positif. Misalnya, “Dery, kamu kalau diterangkan guru kok banyak ngobrolnya, nanti lama-lama kamu seperti Bung Karno yang pandai pidato” Dengan bahasa yang halus saya yakin anak akan tersipu malu, tertawa dan dengan sendirinya dia akan berhenti walaupun nanti dia akan mengulanginya lagi. Ini tentu berbeda jika kita membentak “kamu ini nakale koyo setan” Astahghfirullah, ingatlah bahwa ucapan seorang guru atau orang tua itu adalah do’a bagi anak.
Saya memahami bahwa banyak dari orang tua tidak tahu bagaimana seharusnya menjadi orang tua. Mereka seakan sudah memenuhi kewajiban mereka jika sudah bekerja keras setiap hari untuk memberi nafkah keluarganya. Mereka mengontrol pendidikan anak-anaknya hanya dari nilai yang mereka peroleh. Kalo dapat 100 ya di cap pinter, kalau dapat 50 ya di cap bodoh. Saya sering menjumpai orang tua yang melabeli “Goblok” kepada anaknya. Atau menyuruh anaknya belajar, sementara mereka menonton sinetron dengan tanpa mendampingi anaknya. Paling nantinya anaknya Cuma ditanya “sudah selesai PRnya?” jarang sekali yang mempertanyakan “kamu kesulitan yang mana? Saya Bantu, yuk!”. Komunikasi orang tua dan guru yang kurang terhadap anak akan mempengaruhi jiwa mereka. Mereka akan mengira bahwa mereka kurang diperhatikan. Ini pasti akan mempengaruhi kemampuan secara psikologis dan akademik anak-anak.
Saya sering sekali mengingatkan anak tentang pentingnya belajar, karena belajar adalah kewajiban sesuai sabda nabi “mencari ilmu itu wajib dari kita lahir sampai menuju liang lahat” sungguh nilai nilai agama kita telah mengajarkan karakter yang akan membimbing kita selamt dunia akhirat.
Pada suatu ketika saya mengikuti workshop tentang pendidikan berkarakter di hotel grand kalimas Surabaya. Pembicaranya adalah ustadz Najib Sulhan. Saya merasa pernah mendengar namanya tetapi saya agak lupa lupa ingat. Pada saat beliau memperkenalkan diri, saya baru ingat bahwa beliau adalah penulis tetap majalah MAYARA. subhanaAllah Allah telah mempertemukan aku dengan orang yang sangat luar biasa. Dalam hati saya hanya bersyukur Alhamdulillah.
Pada kesempatan itu, saya mendapatkan sebuah kejutan yaitu, kejutan salam. Saya sangat terkejut ketika beliau menyalami kami dua kali dengan semangat yang berbeda. Salam yang pertama bernada pelan dan “lemes” kami semua pun menjawab dengan kurang semangat. Salam kedua, dengan nada berapi –api, kamipun seolah bangun dari kemalasan kami pagi itu. Luar biasa, salam yang bersemangat menghasilkan respon yang bersemangat pula!
Saya akhirnya menyadari bahwa setiap hari ketika bertemu murid, saya kaang kadang masuk dengan wajah lesu bahkan mengucapkan greeting dengan kurang bersemangat. Saya merasa bersalah karena kurang memperhatikan hal tersebut. Memang kelihatannya sepele, teapi dampaknya ke anak didik saya sangat besar. Saya telah mengendurkan semangat mereka yang datang dari rumah dengan rapi membawa tas yang hanya bertujuan untuk belajar menjadi anak yang pandai.
Setelah workshop, saya mencoba mempraktekkannya di kelas saya. Saya salam dua kali. Yang pertama dengan nada “lemes” dan yang kedua dengan nada bersemangat. Ternyata respon anak anak sama dengan respon para guru kerika mengikuti workshop. Kami para guru terkadang sering memarahi anak didik kami ketika melihat mereka ngantuk atau duduk dengan menyandarkan tubuh mereka di atas bangku. Kita terkadang tidak menyadari bahwa kita juga sering menciptakan suasana yang tidak bersemangat. Ya Allah ampunilah keteledoran kami.
Ketika kita para guru bersemangat dalam mengajar, saya yakin para murid pun akan bersemangat pula. Mereka akan menbak nebak, “kira kira apa ya yang akan diajarkan bapak / ibu guru hari ini? Saya sudah tidak sabar!” mereka akan terus termotivasi jika melihat keramahan kita, Senyum kita dan semangat kita. Siapa lagi panutan mereka diseklah kalau bukan kita para guru. Hal ini tentu akan berbeda jika kita serng memasang muka “kecut” di dalam kelas. Mereka akan berfikir “lama sekali, kok nggak istirahat ya!, kapan ya aku akan pulang?”. Jadi marilah kita selalu mengawali pembelajaran dengan penuh semangat.
CERITA
Cerita merupakan hal yang menarik bagi anak anak. Mereka akan bias berimajinasi sesuai dengan cerita tersebut. Mereka mengira-ngira tempat, tokoh watak tokoh dan bahkan meeka bisa mengambil hikmah dari cerita tersebut. Mereka akan belajar budi pekerti dari situ jika cerita tersebut memang layak umtuk di konsumsi anak-anak.misalnya cerita tentang Ibnu Hajar, para pahlawan, cerita pribadi gurunya dll. Akan banyak keteladanan yang bisa dicontohkan dari cerita-cerita tersebut. Hal ini tentu akan berbeda jika anak-anak mendengar cerita horror dari sebuah film di TV atau cerita mistis dari majalah atau koran. Mereka akan merasa takut dengan sesuatu yang tidak jelas. Banyak anak-anak kita ketakutan kalau masuk toilet. Mereka selalu berdua jika ingin pipis dan berak. Bahkan saya menjumpai bayak anak didik saya yang membeli cerita horror pendek seperti kuntilanak, gondoruwo kuburan dan lain lain dalam buku kecil seharga Rp. 500. saya langsung melarang mereka membeli buku kecil tersebut. Hal ini akan masuk di alam bawah sadar mereka tentang hantu atau apalah yang kelihatan serem sehingga membuat mereka menjadi seorang penakut.
HUMOR CERDAS
“Nak kamu itu kok aktif sekali seperti Gus Dur, jangan naik naik bangku ya! Itu tudak sopan dan berbahaya” ungkapan tersebut akan membuat anak tidak membenci kita. Beda kalau kita bilang “ kamu ini nakal sekali seperti kuda liar” terang aja si anak akan semakin liar. Mereka akan membenarkan keliaran mereka karena kita sudah mengatakan seperti kuda. Kalau tidak liar bukan kuda namanya!!.
“Apa nama bulan yang mempunyai 28 hari?” semua anak menjawab Pebruari. Saya pun langsung menyangkalnya, “salah” mereka semua tidak terima “iya, teacher Pebruari kan jumalah harinya 28” akhirnya saya bertanya balik “lho, memangnya Januari sampai Desember tidak punya 28 hari?” akhirnya dengan sedikit “kethus” mereka bisa menerima.
Humor seperti ini dibutuhkan agar suasana kelas tidak terlalu tegang. Karena saya mengajar di tingkat SD, maka saya jadikan kegiatan pembelajaran dengan rilex. Saya sedikit sekali mencatatkan di papan tulis, biasaya hanya sepuluh soal. Saya masih sering menjumpai guru kelas menyuruh anak-anak menyalin soal pilihan ganda dari buku paket atau LKS ke buku tulis mereka. Menurut saya kegiatan ini terlalu membuang-buang waktu karena anak bukan hanya fokus kepada isi materi tersebut, tetapi anak akan lebih terfokus pada menyelesaikan tulisan tangan.
Dimanakah Ibu Kartini bekerja setelah menikah? Semua anak berfikir ada yang menjawab “di kecamatan, di kantor, di kelurahan di PERTAMINA dll” Sebernarnya kita semua tahu bahwa Ibu Kartini tidak bekerja di kantor, karena pada waktu itu yang ada mungkin hanya kantor pemerintah. Ini hanya memancing reaksi anak karena kita mengingatkan mereka tentang Ibu Kartini dan yang berhubungan dengan Ibu kartini. Akhirnya saya menjawab pertanyaan saya sendiri. “Ibu Kartini bekerja di PLN” Semua anak protes, “pak waktu itu kan belum ada PLN” Eit, tunggu dulu! “ibu Kartini menulis buku namanya Hbis Gelap Terbitlah Terang, jadi dia bekerja di PLN” Suasana kelas pun tidak menjenuhkan lagi.
PESAN MORAL DAN PESAN TERTULIS
Pesan yang terucap sering kali disampaikan oleh orang tua dan guru kepada anak. Pesan yang terucap bisa dalam bentuk masehat, bisa juga dalam bentuk kata bijak, bahkan bisa juga dalam bentuk cerita. Sekali lagi, ketika pesan terucap itu bisa digambarkan, bisa difisualkan, maka lebih mengena dan bisa tersimpan dalam memori jangka panjang.
Saya sering menekankan bahwa “Belajar (tholabul ‘ilmi) adalah kewajiban bagi seorang muslim. Maka marilah anak-anak kita selalu belajar dengan seungguh-sungguh”. Pesan moral seperti ini sangatlah penting untuk memotivasi anak-anak dalan belajar. Banyak kata-kata mutiara atau pesan moral tentang pentingnya mencari ilmu yang dapat kita temukan dalam Al-Qur’an dan hadits.
Selain pesan terucap dari orang tua dan guru, bisa juga pesan itu dalam bentuk tulisan. Banyak sekolah yang memasang tulisan-tulisan bijak sebagai bentuk pesan moral kepada anak. Pesan tertulis yang dibaca secara berulang-ulang akan membentuk karakter mulia pada anak.
NILAI AGAMA
Kita tidak usah bingung tentang apa itu pendidikan karakter. Dari abad ke 7 nabi kita Muhammad sudah mencontohksn karakter yaitu dari ke 4 sifat beliau, shiddiq, amanah, tabligh, fatonah. Terbukti bahwa menanamkan karakter itu tidak butuh biaya banyak. Tetapi yang paling sulit adalah Commitment and Consequent (CC) tiap-tiap sekolah dalam mendesain karakter anak. Banyak kita jumpai di sekolah, di masjid terdapat tulisan “Kebersihan adalah sebagian dari iman” tetapi dalam kenyataannya banyak sekolah-sekolah yang masih kotor, masjid tempat cuci kakinya sampai berwarna keruh. Dari situ saja kita bisa menilai dengan jelas bahwa CC itu sangatlah penting.
Semua itu harus dimulai dari perilaku gurunya. Jika guru itu perilakunya, kata-katanya, penampilannya, tindak tanduknya baik dan patutu dicontoh, anak-anak tidak akan kesulitan mencari sosok sorang model yang berkarakter. Sebaliknya, anda sudah bisa menabk sendiri jika guru tersebut tidak layak untuk ditiru. Kita (para gurua) terkadang sering “keceplosan” melabeli anak “nakal, malas dll” kebiasaan itu harus kita rubah dengan melabeli “tingkah polah” si anak dengan sesuatu yang positif. Misalnya, “Dery, kamu kalau diterangkan guru kok banyak ngobrolnya, nanti lama-lama kamu seperti Bung Karno yang pandai pidato” Dengan bahasa yang halus saya yakin anak akan tersipu malu, tertawa dan dengan sendirinya dia akan berhenti walaupun nanti dia akan mengulanginya lagi. Ini tentu berbeda jika kita membentak “kamu ini nakale koyo setan” Astahghfirullah, ingatlah bahwa ucapan seorang guru atau orang tua itu adalah do’a bagi anak.
Saya memahami bahwa banyak dari orang tua tidak tahu bagaimana seharusnya menjadi orang tua. Mereka seakan sudah memenuhi kewajiban mereka jika sudah bekerja keras setiap hari untuk memberi nafkah keluarganya. Mereka mengontrol pendidikan anak-anaknya hanya dari nilai yang mereka peroleh. Kalo dapat 100 ya di cap pinter, kalau dapat 50 ya di cap bodoh. Saya sering menjumpai orang tua yang melabeli “Goblok” kepada anaknya. Atau menyuruh anaknya belajar, sementara mereka menonton sinetron dengan tanpa mendampingi anaknya. Paling nantinya anaknya Cuma ditanya “sudah selesai PRnya?” jarang sekali yang mempertanyakan “kamu kesulitan yang mana? Saya Bantu, yuk!”. Komunikasi orang tua dan guru yang kurang terhadap anak akan mempengaruhi jiwa mereka. Mereka akan mengira bahwa mereka kurang diperhatikan. Ini pasti akan mempengaruhi kemampuan secara psikologis dan akademik anak-anak.
Saya sering sekali mengingatkan anak tentang pentingnya belajar, karena belajar adalah kewajiban sesuai sabda nabi “mencari ilmu itu wajib dari kita lahir sampai menuju liang lahat” sungguh nilai nilai agama kita telah mengajarkan karakter yang akan membimbing kita selamt dunia akhirat.
Langganan:
Postingan (Atom)
