Senin, 25 Oktober 2010

MEMBENTUK PERILAKU DISIPLIN BAGI GURU DAN MURID DI SEKOLAH

Pada suati hari saya pernah bertanya kepada anak didik saya, “kenapa kamu terlambat? Si anak itu menjawab “ saya beli jajan di kantin pak” kemudian saya bertanya lagi apakh kamu tidak mendengarkan bel tadi?” dia menjawab lagi dengan rasa tidak bersalah, “dengar pak”. Saya Tanya lagi anak itu, “kenapa kamu tudak langsung masuk?” anak itupun menjawab “ saya lihat teman teman saya masih bermain, dan bapak ibu guru juga masih dikantor”

Setelah mendengar jawaban anak itu sayapun merenung dan berkata dalam hati ”ternyata kita terkadang salah menerapkan cara mendisiplinkan anak dilingkungan sekolah. Dia akan merasa tidak bersalah jika melihat teman dan orang lain melakukan hal yang sama walaupun peraturannya ada dan itu tidak diperbolehkan. Jangan slahkan anak jika dalam upaya kita mendisiplinkan mereka tanpa didimbangi dengan adanya contoh disiplin dari diri kita sendiri sebagai seoerang guru. Ketika bel masuk berbunyi dan gurunya masih dikantor, anak akan merasa pelajarna belum dimulai. Ketika guru diundang rapat atau seminar, walaupun sudah jam sepuluh tepat tetapi belum dimulai, grurupun akan merasa acaranya belum dimulai dan tidak harus masuk ruangan rapat atau seminar. Kebiasaan seperti itulah yang harus kita rubah sebagia seorang pendidik. Akan sangat munafik ketika kita memarahi anak yang terlambat, sebaliknya kita sendiripun sering tidak tepat waktu. Karena kebiasaan disiplin itu akan dibawa anak sampai dia dewasa. Kemudaian dia akan menerapkan kedisiplinan itu kepada anaknya dan seterusnya. Bayangkan berapa nilai investasi kebaikan yang sudah kita tanam. Karena ilmu yang kita warskan itu pahalanya bagai air sungai yang mengalir, taka akan hentinya sampai hari kiamat. Kalau berbicara tentang investasi kebaikan, sungguh tidak ada yang bisa mengalahkan guru yang menurunkan ilmu ilmunya kepada murid muridnya, Subhanallah.

PERHATIAN KEPADA ANAK ANAK
Saya masih ingat ketika mengikuti workshop tentan mengelola kelas yang baik oleh KPI (kualitapendidikan islam) Surabaya, si trainer bercerita tentang bagaimana ia perhatian kepadamuridnya. Tiap hari beliau datang paling awal kesekolah. Didepan gerbang beliau membawa sisir dan menyalami anak anak yang baru dating kemudian memperhatikan pakaian meraka yang kurang rapi, kemudian beliau menyisiri anak anak yang rambutnya tidak rapi. Subahanallah, betapa perhatian beliau kepada muridnya sampai hal hal yang biasa kita lupakan beliau perhatikan.
Selanjutnya saya mencoba mempraktekkan yang sudah beliau ajarkan dikelas saya. Luar biasa, anak anak satu persatu minta disisiri, “teacher, saya teacher!”. Ini menunjukkan betapa anak merasa diperhatikan dan disayangi oleh gurunya. Sehingga nantinya mereka akan lebih hormat dan taat kepada gurunya. Tanpa kita harus membentak atau mengomel “rambutmu itu kaya gak pernah mandi!”. Dan yang perlu kita ingat adalah perhatian kepada anak itu tidak mahal. Paling paling harga sisir itu Cuma Rp. 2000an. Perlakuan kita ini nantinya akan diingat oleh si anak selama hidupnya. Dia akan berccerita kepada orang tuanya bahwa ia telah disisiri oleh gurunya tadi.

MEMBUAT KESEPAKATAN DENGAN GURU DAN MURID

Ada cara yang efektif dalam membiasakan kedisiplinan di lingkungan sekolah. Misalnya kita harus membuat kesepakatan yang disetujui bersama antara murid dan guru, guru dan kepala sekolah dan antara guru dan guru.
• 2 menit sebelum bell masuk bapak ibu guru sudah berdiri di depan pintu kelasnya
• Batas maksimal keterlambatan adlah 5 menit
• Murid atau guru yang terlambat masuk dikenai sangsi yang sudah disepakati oleh seluruh guru dan siswa didalam kelas. Misalnya berdiri selama 10 menit.
• PR harus sudah selesai kalau dating ke sekolah. Kalau tidak dapat hukuman menghafalakan 2 surat pendek atau hukuman yang lain yang disepakati bersama
• Beri hadiah berupa tepuk tangan, pujian dll kepada anak yang sudah disiplin. Contoh, “kelas ini luar biasa, bersih muridnya rapid an semangat. Tepuk tangan untuk kalian semua”
• Guru harus adil dalam bersikap, siapapun yang melanggar, termasuk gurunya, harus diberi sangsi yang sama

Bila waktu membaca bersama ada anak yang sangat bersemangat, beri pujian, dan pujiannya harus jelas. Seperti “ karena budi sangat bersemangat hari ini, maka saya beri hadiah untuk mengerjakan soal nomer satu”. Saya yakin teman temannya akan terkesan dan mereka pasti ingin seperti Budi. Bentuk pujian haruslah jelas. Jangan hanya “bagus, Budi” apanya yang bagus. Hal ini ke;ihatan sepele, tetapi dampaknya akan diingat anak seumur hidupnya. Setelah pulang, si anak itu akan bercerita kepada orang tuanya. “ayah, ibu , pakguru bilang aku tadi disekolah membacanya sangat semangat dan diberi hadiah oleh pak guru untuk mengerjakan soal nomer satu dan aku bisa”. Apakah perlakuan semacam ini mahal? Kita tidak perlu memberi hadiah berupa materi karena nanti akan membentuk matrealistis kepada anak. Si anak akan mengerjakan tugas mungkon hanya karena iming iming jajan dari gurunya. Karena kalau yang lain tidak diberi, si anak akan mrasa pak guru ini tidak adil dan mereka mungkin akan “nesu”.
Jadi membentuk perilaku anak bukan hanya dengan berbicara keras, memarahi, menghukum tetapi harus diciptakan kondisi yang adil dan masuk akal dilingkungan mereka. Dan yang lebih penting lagi guru hars menjadi model yang baik sebelum menyuruh anak untuk disiplin. Nantinnya dengan sendirinya perilaku anak ini akan berubah menjadi disiplin, bertanggung jawab yang akan diterapkan disekolah, dirumah dan di masyarakat. Subanallah, pahala akan selalu bertambah dan bertambah kalau kita sudah berusaha mewujudkannya.


TATA TERTIB MENGIKUTI PELAJARAN

“Pak nomer satu apa pak?” belum saya menjawab anak lain bertanya “pak nomer dua apa nomer tiga apa?” dan seterusnya. Suasana kelas menjadi kacau an ribut. Setelah saya tenangkan sebentar, saya melihat anak masih “kumus kumus” bajunya tidak dimasukkan, sampah berserakan dan ingin sekali saya berteriak. Tetapi apakah berteriak itu akan mengubah perilaku mereka? Mungkin mereka akan diam, tetapi hanya sesaat. Bagaimana caranya menjadikan kelas yang tenang, rapid an bersuh tanpa harus menyuruh, membentak dan memarahi? Mungkin, saya bisa sedikit membantu.
Saya membuat peraturan yang sangat sederhana tetapi disepakati oleh seluruh siswa. Sebelum saya mulai pelajaran saya menuliskannya di papan yaitu:
1. periksa baju kalian semua. Seluruh siswa memriksa bajunya, dan saya berkata lagi”siapa yang sudah rapi?” semua bilang “saya pak” “anak anak, tidak usah dijawab dilihat saja baju kalian sendiri dan lihat punya temanmu”semua terdiam dan memeriksa bajunya dan baju temannya. Setelah beberapa saat semua duduk dengan rapi. Wah, semuanya sudah rapi, bagus sekali. Karena kalian semua sudah rajin, tepuk tangan untuk kalian semua!
2. periksa kebersihan badan dan kelas!. Lihat kuku, rambut tangan, apakah masih ada kotoran? Sekali lagi tidak usah dijawab, dilihat saja. Sambil membawa sisir saya menyisiri rambut anak anak yang belum rapi. Kita juga bisa membawa pemotong kuku untuk memeriksa kuku anak anak. Anak anakpun memeriksa semuanya. “Wah saya sudah rapi kamu belum rambutmu belum rapi, kamu keringetan” mereka berkata sambil berbisik bisik dengan temannya. “Coba anak anak lihat bawah bangkumu! Kalau masih ada sampah, enaknya bagaimana?” mereka pun asik memeriksa dan memunguti sampah yang ada dibawah bangkunya. Karena kelas kalian sudah bersih tepuk tangan untuk kalian semua!.
3. Kalau teacher berbicara, kalian semua mendengarkan!. Deal? Semua menjawab”deal”. Setelah itu ada anak yang lagi asik mengobrol dengan temannya. Sayapun berkata” boby, apakah kamu bisa membaca peraturan no 3” diapun menjawab “bisa pak” “bisa mendengarkan teacher?” “siap pak” dan situasipun terkendali. “murid muridku yang sudah rajin, karena kalian sekarang sudah rajin tepul tangan untuk kalian semua!
4. kalau bertanya, angkat tangannya dan mulutnya diam! Kok diam pak? Maksudnya angkat tangan dulu baru teacher menunjuk siapa yang bertanya duluan. ada anak namanya frisca, dia mengangkat tangan, saya bilang, “ada apa frisca?” “ Teacher saya mau ketoilet!” oh ya silahkan. Are we deal? Semua menjawab “deal”.
5. On time, maksudnya apa teacher? On time itu kalau saya bilang tugasnya harus diselesaikan dalam 15 menit, ya harus selesai. Atau kalau mencatat harus selesai dalam sepuluh menit semua harus sudah selesai. Usahakan beri pujian untuk si anak yang selesai duluan. misalnya, Bagas, kamu luar biasa hari ini! Kamucepat sekali menulisnya. Karena bagas selesai duluan, saya beri hadiah membaca komik yang disukainya.

Sebagai penutup saya ingin mengingatkan lagi bahwa anak akan meniru sesuatu yang ia dengar, lihat dan rasakan. Kalau kita memperlakukan mereka dengan kasih saying dan disiplin, merekapun akan menyayangi dan disiplin. Yang paling penting lagi adalah komitmen kita untuk selalu istiqomah dalam menerapkan kedisiplina dilingkungan sekolah. Semoga bermanfaat!

Jumat, 22 Oktober 2010

LET’S LOVE AND CARE OUR CHILDREN

Sesungguhnya hartamu dan anak anakmu hanyalah cobaan (bagimu): Disisi Allahlah pahala yang paling besar (QS 64:15)

Dan orang orang yang berkata: “ya tuhan kami, anugrahkanlah kepadakami istri istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang orang yang bertakwa. (Q S 25 :74)

“ya tuhanku, tunjuklah aku untuk mensyukuri nikmat engkau yang telah engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalehyang engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi) kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang orang yang berserah diri. ( Q S 46 : 15 )

10 MACAM PERLAKUAN YANG MEMPENGARUHI PERILAKU ANAK
Dorothy law Nolte pernah mengatakan bahwa anak belajar dari lingkungannya. Lengkapnya adalah:

1. Jika anak dibesarkan dengan celaan, Ia belajar memaki.
2. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
3. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
4. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.
5. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
6. Jika anak dibesarkan dengan pujian ia belajar menghargai.
7. Jika anak dibesarkan dengan sebaik baik perlakuan, ia belajar keadilan.
8. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman ia belajar menaruh kepercayaan.
9. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.
10.Jika anak dibesarkan dengan kasih saying dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.



PERBEDAAN SIKAP ANAK PEREMPUAN DAN ANAK LAKI LAKI

ANAK PEREMPUAN

• Ketika anak permpuan diam, berjuta juta hal dalam pikirannya
• Ketika anak permepuan tidak membantah, dia berfikit sangat dalam
• Ketika anak perempuan memandang dengan mata penuh Tanya, dia ingin tahu berapa lama kita akan menemani
• Ketika anak perempuan menjawab “saya baik baik saja”, setelah beberapa saat, tidaklah semua baik baik saja.
• Ketika anak permepuan memandang kita dengan tajam, dia ingin tahu kenapa kita berbohong
• Ketika anak perempuan bersandar didada, dia berharap kita menjadi miliknya selamanya

ANAK LAKI LAKI

• Ketika anak laki laki diam, dia tidak punya sesuatu yang ingin dikatakan
• Ketika anak laki laki membantah, dia dalam kondisi yang tidak ingin membantah
• Ketika anak laki laki memandang dengan penuh Tanya, dia benar benar sedang kebingungan
• Ketika anak laki laki menjawab “saya baik baik saja” setelah beberapa saat, semuanya akan baik baik saja
• Ketika anak laki laki memandang dengan tajam, dia sedang heran atau marah
• Ketika anak laki laki bersandar dipangkuan, dia ingin kita menjadi miliknya selamanya

Created by TEACHER YAZID. Adopted from PSIKOLOGI ANAK DAN PENDIDIKAN, sebuah kumpulan artikel dan seb yang dirangkup oleh Zainul Muttaqien

Sabtu, 16 Oktober 2010

KISI KISI UTS DAN UAS, SUDAHKAH DIBUAT?

“Waduh nilai UTS anak saya kok jelek ya! Padahal sudah saya leskan, bagaimana ini? “

banyak orang tua dan guru yang mengeluh tentang hasil ulangan anaknya. Mereka menganggap UTS dan UAS adalah representasi dari hasil belajarnya. Secara teori memang benar bahwa UTS dan UAS adalah salah satu system evaluasi belajar siswa. Tapi banyak prakteknya yang tidak mencerminkan representasi dari system evaluasi tersebut.
Masih banyak UPTD yang tidak membuat kisi kisi penyusunan UTS dan UAS. Biasanya para guru hanya ditunjuk untuk menulis soal tanpa ada koordinasi dari guru mapel atau guru kelas di kecamatan tersebut. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya komplain ketika soal sudah dibagi ke siswa dan banyak siswa yang kesulitan untuk menjawab karena merasa belum pernah diajari gurunya. Atau mungkin materinya belum sampai ke bab tersebut. Jadi janganlah UTS dan UAS itu menjadi momok yang menakutkan bagi siswa. Marilah kita buat sedetail mungkin apa yang akan diujikan untuk UTS dan UAS tersebut.

PERAN KKG
Di setiap kecamatan sudah dibentuk KKG di bawah pengawasan K3S. dalam forum yang sangat strategis tersebut seharusnya bisa dirumuskan program untuk membuat kisi kisi UTS dan UAS. Karena disitu lah para guru kelas dan Mapel berkumpul. Dalam forum itu juga bisa didiskusikan batasan batasan materi untuk UTS dan UAS. Kemudian dibentuklah tim perumus kisi kisi dan tim penulis soal tiap kelas dan mapel.Dari hasil kerja tersebut selanjutnya dievaluasi oleh tim evaluator dari masing masing ketua dan Pembina KKG atau K3S sesuai kesepakatan dan kebutuhan forum. Kalau sudah dibuat system seperti itu sayan yakin tidak akan ada komplain lagi dari guru dan siswa tidak akan merasa kesulitan mengerjakan soal karena semua gruru sudah persiapan dan tahu batasan materi yang akan diujikan. Alangkah ruginya kalau kegiatannya hanya sekedar berkumpul, penyuluhan, halal bi halal dll tanpa ada hasil yang signifikan yang bisa dirasakan langsung manfaatnya untuk anak anak.
Sebenarnya membuat kisi kisi bukanlah hal yang sulit untuk dikerjakan. Semua guru telah membuat program dari setandar isi dan setandar kompetensi, kita hanya merumuskan bentuk dan model soal baik pilihan ganda, isian maupun uraian. Para guru bisa mencontoh dari kisi kisi ujian kelas 6 untuk di praktekkan di semua kelas. Kalau sudah tinggal membuat soalnya dan diujicobakan ke anak anak.
Dalam prakteknya mungkin hanya beberapa UPTD yang sudah mempraktekkan membuat kisi kisi UTS dan UAS. Bayangkan membuat ujian tanpa adanya kisi kisi akan jadi apa model pendidika kita. Jangan salah jika sampai ada soal yang kecolongan dengan kata kata ‘jorok”, karena si pembuat soal tersebut tiak mempunyai pegangan untuk dijadikan acua pembuatan soal. Kalau sudah begini yang rugi adalah anak didik kita, karena mereka merasa kesulitan dalam mengerjakan soal dikarenakan hal yang sebenarnya sepele yaitu tanpa adanya kisi kisi yang jelas dan bisa diterima semua guru.

KKG BAHASA INGGRIS DI KECAMATAN BUBUTAN SURABAYA

Kabar gembira datang dari UPTD kecamatan bubutan Surabaya. Di sini, penyusunan naskah UTS dan UAS sudah ada kisi kisinya dan dibagikan jauh jauh hari sebelum pelaksanaan UTS dan UAS. Memang disini KKGnya sudah menghasilkan suatu produk yaitu kisi kisi UTS dan UAS. Dalam pelaksanaan penyusunan kisi kisi semua guru anggota KKG diundang dan dilibatkan untuk bekerja sama, menentukan batsan batasan setandar isi dan standar kompetensi yang akan diujikan kepada siswa. Setelah itu diambil perwakilan guru untuk membuat soal sesuai kisi kisi UTS dan UAS yang sudah dibuat. Dalam forum KKG Bahasa Inggris terdapat program pembinaan, pembuatan silabus, RPP, metode pengajaran dan system evaluasi. Jadi suasana KKG tidak hanya formalitas berkumpul tetapi sudah menghasilkan produk.
Saya sendiri mengajar bahasa Inggris di dua sekolah dan di kecamatan yang berbeda. Di kecamatan satunya saya tidak menjumpai kisi kisi yang seharusnya menjadi pedoman UTS dan UAS. Bahkan KKG Bahasa Inggris pun tidak dibentuk. Ini seharusnya menjadi tanggung jawab K3S untuk mengusulkan KKG ke cabang dinas. Karena kalau tidak, ini sama halnya menganak tirikan pelajaran bahas Inggris di SD karena sudah mendapat jam dan ada administrasi yang harus dikerjakan bahkan ada UTS dan UAS. sebenarnya dana alokasi untuk KKG itu ada dan harus dimanfaatkan. Memang untuk memulai sesuatu itu bukanlah perkara yang mudah, diperlukan komitmen dan kerja keras dari masing masing pihak.




KELAS 1, 2 dan 3 PERLUKAH UTS DAN UAS?

Untuk kelas kecil UTS dan UAS memang perlu tetapi untuk soalnya sesuai kebijakan K3S. artinya jika dibuat oleh kecamatan maka harus ada kisi kisinya. Tetapi jika kebijakannya dibuat oleh sekolah maka gurunya sendiri boleh membuat soalnya dengan persetujuan kepala sekolah. Jadi kalau system ini dijalankan dengan sungguh sungguh saya yakin nanti akan berkurang komplain tentang model soal UTS dan UAS. Karena apapun bentuk evaluasinya, kalau dibuat untuk banyak orang harus ada pedoman penulisan dan batasan batasan materinya.

BAGAIMANA KALAU SUDAH TERLANJUR TIDAK ADA KISI KISINYA?

Kalaupun sudah terlanjur dijalankan tanpa aada kisi kisinya, maka gurulah yang punya hak untuk menjelaskan soal tersebut atau kalau perlu guru boleh membuat soal sendiri dengan nama soal UTS sesuai materi yang sudah diberikan kepada siswanya. Karena bagiamanpun juga durulah yang paling faham tentang keadaan murid muridnya. Jadi sekali lagi, jika tidak ada kisi kisinya, hasil nilai UTS dan UAS bukanlah hasil akhir. Karena kita tahu dalam bahasa Inggris pengucapan, kata dan susunan kalimatnya tidak sama dengan bahasa Indonesia. Jika beda satu huruf saja artinya sudah berbeda. Kalau soal IPS, PKN anak masih bisa menalar untuk memahami maksudnya, tetapi kalau bahasa Iggris beda kata saja anak sudah tidak mengerti. Maka dari itu sekali guru yang lebih tahu tentang kondisi muridnya bukan orang lain.