Ketika putra putrid kita semakin besar, orang tua banjyak merasa hubungannya sangat renggang dibandingkan dengan masa kecil mereka. Inilah yang sering dikeluhkan oleh banyak orang tua. Anak yang dulu sangat manis, sopan dan lucu kini terlihat berubah dan terlihat kurang hormat serta kurang taat kepada orang tua.
Fenomena tersebut bukanlah hal yang aneh. Karena semakin luasnya wilayah social anak semakin banyak dan beragam obyek yang disenangi anak dan obyek tersebut tidak selalu berasl dari orang tua. Biasanya berasal dari teman, media dan banyak lagi sesuai dengan perkembangan informasi yang dimilikinya. Maka, seorang anak biasanya tidak mau diperlakukan lagi seperti anak kecil karena umumnya mereka sudah merasa bisa mengurus dirinya sendiri (psikologi perkembangan)
Sebaliknyua disisi lain, seluruh perkembangan anak itu biasanya tidak diikuti oleh perubahan orang tua. Bahkan secara tidak sadar orang tua berusaha untuk mempertahankan otoritasnya. Banyak orang tua yang berpikir bahwa ketergantungan anak pada orang tua itu selama mungkin.
“semakin renggang bukanlah hal yang luar biasa. Namun bukan berarti kita membiarkan hubungan kita semakin renggang” (miftahul jinan). Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membangun kembali hubungan dan keakraban kita dengan putra putri kita, diantaranya:
1. bermain dan bercanda dengan anak
Kebutuhan ubtuk bermain dan bercanda tidak hanya dilakukan ketika anak masih kecil. Bahkan anak remaja masih perlu untuk kita ajak bermain dan bercanda. Tetapi bercandanya harus berbeda dengan anak kecil. Kita bisa mengajak anak kita berkemah, memancing dan bahkan nonton sepak bola. Ini akan lebih mengakrabkan kit adari pada hanya membiarkan mereka melakukan kegiatan dengan teman temannya saja. Umar bin Khattab ra berkata, “hendaklah seseorang ketika berada ditengah keluarganya seperti anak kecil yang masih suka bermain dan bercanda. Tapi jika tersentuh kehormatannya, ia akan menjadi lelaki sejati”
2. memberi kecupan, perhatian dan kasih sayang
Anak yang selalu kita beri kecupan setiap mereka berpisah dengan kita, lebih besar kemungkinan untuk terbebas dari pengaruh negative. Kecupan dikening melahirkan ikatan yang kuat, mewujudkan perhatian dan menumbuhkan kasih sayang. Banyak orang tua merasa geli ketika memeluk dan mengecup anaknya. Fenomena ini haruslah kita rubah untuk menjadi orang tua yang baik. Kalau kita melihat film barat para orang tua sering sekali memeluk dan mencium anaknya ketika senang atau sedih. Jadi in bukanlah hal yang susah untuk dilakukan dan jangan malu untuk mencoba.
3. berdialog dan berbagi dengan anak
Dialog yang baik dan sharing yang efektif akan meningkatkan secara segnifikan kepercayaan diri anak.seseorang yang sering diajak dialog dan sharing orang tua akan merasakan keberadaannya sangatlah bermakna bagi jiwa sosialnya. Jangan sampai orang tua hanya memerintah, meimilh sekolah, menentukan jurusan anak ketika kuliah tanpa mendiskusikan dengan anak anaknya. “kamu mau jadi apa kalau memilih jurusan itu” inilah kalimat yang biasa diucapkan orang tua terhadap anaknya. Kalau memang orang tua tidak setuju bisa berdialog secara logis dengan anaknya. Lebih baik bertanya seperti ini “ apa rencana kamu dengan memilih jurusan itu?” atau “bagaimana kamu merencanakan masa depanmu dengan meimilih jurusan itu” atau juga apa manfaatnya bagi kamu dengan memilih jurusan itu”. Perlu diingat bahwa semua ilmu itu ada manfaatnya biarkan anak mengembangkan ilmu yang diminatinya.
4. memberikan hadiah pujian dan penghargaan kepada anak
Rasulullah SAW bersabda, ”saling memberi hadiahlah, maka kalian akan saling mencintai”
Kalau anak anda berprestasi jangan lupa memberi pujian dan hadiah. Dan jangan lupa anda harus secara terang terangan dalam memberikannya. “hadiah ini aku berikan karena kamu memang berprestasi” atau “selamat ya, ini hadiah dari ayah, ayah bangga padamu. Nanti kamu harus lebih baik dari ini”. Kalimat kalimat pujian tersebut akan memacu motivasi anak untuk berkembang. Dia akan merasa orang tuanya sangat menyayanginya lebih dari teman temannya. Jangan sampai anak merasa bahwa teman temannya lebih menyayanginya dari pada orang tuanya.
5. menggunakan respon dan menghindari reaksi
Reaksi adalah tindakan yang didasari dari pemikiran pertama saat melihat perilaku positif dan negative anak. Respon adalah tindakan yang didasari pemikiran mendalam dengan melihat sebab dan akibat terhadap perilaku diatas. Biasanya orang tua hanya bereaksi seperti ”kamu ini gimana sih gitu aja gak bisa, bikin malu aja”. Bayangkan betapa sakit hati anak kita kalau mendengar kata kata tersebut. Sebaiknya kita memberikan respon seperti ”setelah semuanya selesai apa rencana kamu?” hal ini akan memberi ruang kepada anak untuk berpikir dan mencari ja;an keluar terhadap kegagalannya.
6. lebih banyak mendengar dari pada berbicara
Saat anak bereksplorasi dengan lingkungan baru dengan nialai nilai yang seringkali berbeda. Sebenarnya mereka mempunyai pertanyaan pertanyaan dalam benak. Jika orang tua mampu merangsang merka untuk menyampaikan kepada kita tanpa rasa takut, kita akan mempunyai kesempatan untuk membangun pola pikir yang baik. Pastikan kita lebih banyak mendengar dan membiarkan anak berkata tanpa rasa takut dan malu. (dikutip dari Miftahul Jinan, majalah Al Falah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar